NYERI
A.Definisi
Nyeri adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial (Corwin
J.E. ).
Ketika suatu jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan – bahan yang dapat menstimulus reseptor nyeri seperti serotonin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandin, dan substansi P yang akan mengakibatkan respon nyeri (Kozier dkk). Nyeri juga dapat disebabkan stimulus mekanik seperti pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri. (Taylor C. dkk)
Ganong, (1998), mengemukakan proses penghantaran transmisi nyeri yang disalurkan ke susunan syaraf pusat oleh 2 (dua) sistem
serat (serabut) antara lain:
(1).Serabut A – delta (Aδ) Bermielin dengan garis tengah 2 – 5 (m yang menghantar dengan kecepatan 12 – 30 m/detik yang disebut juga nyeri cepat (test pain) dan dirasakan dalam waktu kurang dari satu detik, serta memiliki lokalisasi yang dijelas dirasakan seperti ditusuk, tajam berada dekat permukaan kulit.
(2).Serabut C, merupakan serabut yang tidak bermielin dengan garis tengah 0,4 –1,2 m/detik disebut juga nyeri lambat di rasakan
selama 1 (satu) detik atau lebih, bersifat nyeri tumpul, berdenyut atau terbakar.
Transmisi nyeri dibawah oleh serabut A – delta maupun serabut C diteruskan ke korda spinalis, serabut – serabut syaraf aferen masuk kedalam spinal lewat dorsal “root” dan sinap dorsal “ horn” yang terdiri dari lapisan (laminae) yang saling berkaitan II dan III membentuk daerah substansia gelatinosa (SG). Substansi P sebagai nurotransmitter utama dari impuls nyeri dilepas oleh sinaps dari substansia gelatinosa. Impuls – impuls nyeri menyebrang sum – sum tulang belakang diteruskan ke jalur spinalis asendens yang utama adalah spinothalamic traet (STT) atau spinothalamus dan spinoroticuler traet (SRT) yang menunjukkan sistem diskriminatif dan membawa informasi mengenai sital dan lokasi dari stimulus ke talamus kemudian kemudian diteruskan ke korteks untuk diinterprestasikan, sedangkan impuls yangg melewati SRT, diteruskan ke batang otak mengaktifkan respon outonomik dari limbik (motivational affektive) effective yang dimotivasi (Long).
Pada tahun 1979, International Association for the Study of Pain mendefinisikan nyeri sebagai : Suatu pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan, yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensi untuk menimbulkan kerusakan jaringan. Rasa nyeri selalu merupakan sesuatu yang bersifat subjektif. Setiap individu mempelajari nyeri melalui pengalaman yang berhubungan langsung dengan luka (injury), yang terjadi pada masa awal kehidupannya. Secara klinis, nyeri adalah apapun yang diungkapkan oleh pasien mengonai sesuatu yang dirasakannya sebagai suatu hal yang tidak menyenangkan / sangat mengganggu (Dharmady & Triyanto).
Defenisi keperawatan menyatakan bahwa nyeri adalah, apapun yang menyakitkan tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada kapanpun individu mengatakannya. Nyeri dianggap nyata meskipun tidak ada penyebab fisik atau sumber yang dapat diidentiftkasi. Meskipun beberapa sensasi nyeri dihubungkan dengan status mental atau status psikologis, pasien secara nyata merasakan sensasi nyeri dalam banyak hal dan tidak hanya membayangkannya saja. Kebanyakan sensasi nyeri adalah akibat dari stimulasi fisik dan mental atau stimuli emosional. Oleh karna itu, mengkaji nyeri individu mencakup pengumpulan informasi tentang penyebab fisik dan juga faktor mental atau emosional yang mempengaruhi persepsi individu tentang nyeri. Intervensi keperawatan diarahkan pada kedua komponen tersebut (Smeltzer & Bare).
Beberapa pasien tidak dapat atau tidak akan melaporkan secara verbal bahwa mereka mengalami nyeri. Oleh karena itu, perawat juga
bertanggung jawab terhadap pengamatan perilaku nonverbal yang dapat terjadi bersama dengan nyeri (Smeltzer & Bare, 2002).
B.Fisiologi Nyeri
Diantara terjadinya stimulus yang menimbulkan kerusakan jaringan hingga timbulnya pengalaman subyektif mengenai nyeri, terdapat rangkaian peristiwa elektrik dan kimiawi yang kompleks, yaitu transduksi, transrmisi, modulasi dan persepsi. Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius diubah menjadi aktivitas elektrik pada ujung saraf sensorik (reseptor) terkait. Proses berikutnya, yaitu transmisi, dalam proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu saraf sensorik perifer yang meneruskan impuls ke medulla spinalis, kemudian jaringan saraf yang meneruskan impuls yang menuju ke atas (ascendens), dari medulla spinalis ke batang otak dan thalamus. Yang terakhir hubungan timbal balik antara thalamus dan cortex. Proses ketiga adalah modulasi yaitu aktivitas saraf yang bertujuan mengontrol transmisi nyeri. Suatu jaras tertentu telah diternukan di sistem saran pusat yang secara selektif menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis. Jaras ini diaktifkan oleh stress atau obat analgetika seperti morfin (Dewanto). Proses terakhir adalah persepsi, Proses impuls nyeri yang ditransmisikan hingga menimbulkan perasaan subyektif dari nyeri sama sekali belum jelas. bahkan struktur otak yang menimbulkan persepsi tersebut juga tidak jelas. Sangat disayangkan karena nyeri secara mendasar merupakan pengalaman subyektif sehingga tidak terhindarkan keterbatasan untuk memahaminya (Dewanto). Nyeri diawali sebagai pesan yang diterima oleh saraf-saraf perifer. Zat kimia (substansi P, bradikinin, prostaglandin) dilepaskan, kemudian menstimulasi saraf perifer, membantu mengantarkan pesan nyeri dari daerah yang terluka ke otak. Sinyal nyeri dari daerah yang terluka berjalan sebagai impuls elektrokimia di sepanjang nervus ke bagian dorsal spinal cord (daerah pada spinal yang menerima sinyal dari seluruh tubuh). Pesan kemudian dihantarkan ke thalamus, pusat sensoris di otak di mana sensasi seperti panas, dingin, nyeri, dan sentuhan pertama kali dipersepsikan. Pesan lalu dihantarkan ke cortex, di mana intensitas dan lokasi nyeri dipersepsikan. Penyembuhan nyeri dimulai sebagai tanda dari otak kemudian turun ke spinal cord. Di bagian dorsal, zat kimia seperti endorphin dilepaskan untuk mcngurangi nyeri di dacrah yang terluka (Taylor & Le Mone).
Di dalam spinal cord, ada gerbang yang dapat terbuka atau tertutup. Saat gerbang terbuka, impuls nyeri lewat dan dikirim ke otak. Gerbang juga bisa ditutup. Stimulasi saraf sensoris dengan menggaruk secara perlahan di dekat daerah nyeri dapat menutup gerbang sehingga rnencegah transmisi impuls nyeri. Impuls dari pusat juga dapat menutup gerbang, misalnya perasaan sernbuh dapat mengurangi dampak atau beratnya nyeri yang dirasakan (Patricia & Walker).
Kozier, dkk. (1995) mengatakan bahwa nyeri akan menyebabkan respon tubuh meliputi aspek pisiologis dan psikologis, merangsang respon otonom (simpatis dan parasimpatis respon simpatis akibat nyeri seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan denyut nadi, peningkatan pernapasan, meningkatkan tegangan otot, dilatasi pupil, wajah pucat, diaphoresis, sedangkan respon parasimpatis seperti nyeri dalam, berat , berakibat tekanan darah turun nadi turun, mual dan muntah, kelemahan, kelelahan, dan pucat (Black M.J, dkk)
Pada nyeri yang parah dan serangan yang mendadak merupakan ancaman yang mempengaruhi manusia sebagai sistem terbuka untuk beradaptasi dari stressor yang mengancam dan menganggap keseimbangan. Hipotalamus merespon terhadap stimulus nyeri dari reseptor perifer atau korteks cerebral melalui sistem hipotalamus pituitary dan adrenal dengan mekanisme medula adrenal hipofise untuk menekan fungsi yang tidak penting bagi kehidupan sehingga menyebabkan hilangnya situasi menegangkan dan mekanisme kortek adrenal hopfise untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan menyediakan energi kondisi emergency untuk mempercepat penyembuhan (Long C.B.). Apabila mekanisme ini tidak berhasil mengatasi Stressor (nyeri) dapat menimbulkan respon stress seperti turunnya sistem imun pada peradangan dan menghambat penyembuhan dan kalau makin parah dapat terjadi syok ataupun perilaku yang meladaptif (Corwin, J.E.).
C.Klasifikasi Nyeri
Menurut Long C.B (1996) mengklasifikasi nyeri berdasarkan jenisnya, meliputi :
(1).Nyeri akut, nyeri yang berlangsung tidak melebihi enam bulan, serangan mendadak dari sebab yang sudah diketahui dan daerah nyeri biasanya sudah diketahui, nyeri akut ditandai dengan ketegangan otot, cemas yang keduanya akan meningkatkan persepsi nyeri. (2).Nyeri kronis, nyeri yang berlangsung enam bulan atau lebih, sumber nyeri tidak diketahui dan tidak bisa ditentukan lokasinya. Sifat nyeri hilang dan timbul pada periode tertentu nyeri menetap.
Corwin J.E (1997) mengklasifikasikan nyeri berdasarkan sumbernya meliputi :
(1) Nyeri kulit, adalah nyeri yang dirasakan dikulit atau jaringan subkutis, misalnya nyeri ketika tertusuk jarum atau lutut lecet,
lokalisasi nyeri jelas disuatu dermatum.
(2) Nyeri somatik adalah nyeri dalam yang berasal dari tulang dan sendi, tendon, otot rangka, pembuluh darah dan tekanan syaraf
dalam, sifat nyeri lambat.
(3) Nyeri Viseral, adalah nyeri dirongga abdomen atau torak terlokalisasi jelas disuatu titik tapi bisa dirujuk kebagian-bagian tubuh
lain dan biasanya parah.
(4) Nyeri Psikogenik, adalah nyeri yang timbul dari pikiran pasien tanpa diketahui adanya temuan pada fisik (Long, 1989 ; 229). (5) Nyeri Phantom limb pain, adalah nyeri yang dirasakan oleh individu pada salah satu ekstremitas yang telah diamputasi (Long, 1996 ; 229).
D.Nyeri Pasca Bedah
Pembedahan merupakan suatu kekerasan atau trauma bagi penderita. Anestesi maupun tindakan pembedahan menyebabkan kelainan yang dapat menimbulkan berbagai keluhan dan gejala. Keluhan dan gejala yang sering dikemukakan adalah nyeri, demam, takikardia, sesak nafas, mual, muntah dan memburuknya keadaan umum (Syamsuhidajat).
Para dokter dalam pengalamannya sering kali terkejut akan beratnya nyeri yang dialami oleh pasien setelah pembedahan. Kendati pun tersedia obat-obat yang efektif, namun nyeri pasca bedah tidak dapat diatasi dengan baik. Sekitar 50% pasien tetap mengalami nyeri (Walsh).
Menurut Benedetti (1990), nyeri yang hebat menstimulasi reaksi stress yang secara merugikan mempengaruhi sistem jantung dan imun. Ketika impuls nyeri ditransmisikan, tegangan otot meningkat, seperti halnya pada vasokonstriksi lokal. Iskemia pada tempat yang sakit rnenyebabkan stimulasi lebih jauh dari reseptor nyeri. Bila impuls yang menyakitkan ini menjalar secara sentral, aktivitas simpatis diperberat, yang meningkatkan kebutuhan miokardium dan konsumsi oksigen. Penelitian telah menunjukkan bahwa insufisiensi kardiovaskular terjadi tiga kali lebih sering dan insiden infeksi lima kali lebih besar pada individu dcngan kontrol nyeri yang buruk (Smeltzcr & Bare).
Pada luka operasi, analgetik sebaiknya diberikan dengan rencana sesuai dengan letak dan sifat luka, bukan “diberikan kalau perlu”.
Dosis yang diberikan pun bergantung pada reaksi penderita (Sjamsuhidajat).
Peredaan nyeri komplit pada daerah dari insisi bedah dapat tidak terjadi selama beberapa minggu, tergantung pada letak dan sifat pembedahan. Namun demikian, perubahan posisi pasien, penggunaan distraksi, pemasangan washcloths dingin pada wajah, dan pemijatan punggung dengan losion yang menyegarkan dapat sangat membantu dalam menghilangkan ketidaknyamanan temporer dan meningkatkan medikasi lebih efektif ketika diberikan (Smeltzer & Bare).
E.Bedah Laparatomi
Bedah laparatomi merupakan tindakan operasi pada daerah abdomen (Spencer), Menurut Sjamsuhidayat dan Jong (1997), bedah laparatomi merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada bedah digestif dan kandungan. Adapun tindakan bedah digestif yang sering dilakukan dengan teknik sayatan arah laparatomi yaitu: herniotorni, gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepateroktomi, splenorafi/splenotomi, apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dan fistulotomi atau fistulektomi.
Tindakan bedah kandungan yang sering dilakukan dengan teknik sayatan arah laparatorni adalah berbagai jenis operasi uterus, operasi pada tuba fallopi dan operasi ovarium (Prawirohardjo), yaitu: histerektomi baik itu histerektoini total, histerektomi sub total, histerektomi radikal, eksenterasi pelvic dan salpingo -coforektomi bilateral.
Selain tindakan bedah dengan teknik sayatan laparatomi pada bedah digestif dan kandungan, teknik ini juga sering dilakukan pada
pembedahan organ lain, menurut Spencer (1994) antara lain ginjal dan kandung kemih.
Ada 4 (empat) cara, yaitu :
a.Midline incision
2,5
cm),
panjang
(12,5
cm).±b.Paramedian,
yaitu
;
sedikit
ke
tepi
dari
garis
tengah
(
c.Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy. (Sjamsuhidajat R, Jong WD)±d.Transverse lower abdomen
incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah
1. Indikasi
a.Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar.
b.Peritonitis
c.Perdarahan saluran pencernaan.(Internal Blooding)
d.Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
e.Masa pada abdomen (Sjamsuhidajat R, Jong WD, 1997)
2. Komplikasi
a.Ventilasi paru tidak adekuat
b.Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung.
c.Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
d.Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan
3.Post Laparatomi
a.Perawatan post Laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani operasi
pembedahan perut. (Long B.C, 1996)
b.Tujuan perawatan post Laparatomi
(1)Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
(2)Mempercepat penyembuhan.
(3)Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi.
(4)Mempertahankan konsep diri pasien.
(5)Mempersiapkan pasien pulang.
c.Komplikasi post Laparatomi (Himawan, S, 1996)
(1)Tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas
dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba
ambulatif.
(2)Infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus
aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.
Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
(3)Dehisensi luka atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor
penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding
abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah.
d.Proses penyembuhan luka (Long B.C, 1996)
(1)Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana
serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.
(2)Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru
tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
(3)Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
(4)Fase keempat
Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.
e.Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan
(1)Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
(2)Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
(3)Pencegahan infeksi.
f.Pengembalian Fungsi fisik.
Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.
Latihan-latihan fisik : Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih
baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi.
F.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Respon Nyeri
Saat seseorang mengalami nyeri, banyak faktor yang dapat mempengaruhi nyeri yang dirasakan dan cara mereka bereaksi terhadapnya. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien, toleransi terhadap nyeri dan mempengaruhi reaksi terhadap nyeri (Le Mone & Burke).
Reaksi fisik seseorang terhadap nyeri meliputi perubahan neurologis yang spesifik dan sering dapat diperkirakan. Kenyataannya, setiap orang mempunyai jaras nyeri yang sama, atau dengan kata lain setiap orang menerima stimulus nyeri pada intensitas yang sama. Reaksi pasien terhadap nyeri dibentuk oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi mencakup umur, sosial budaya, status emosional, pengalaman nyeri masa lalu, sumber dan anti dari nyeri dan dasar pengetahuan pasien. Ketika sesuatu menjelaskan seseorang sangat sensitif terhadap nyeri, sesuatu ini merujuk kepada toleransi nyeri seseorang dimana seseorang dapat menahan nyeri sebelum memperlihatkan reaksinya. Kemampuan untuk mentoleransi nyeri dapat rnenurun dengan pengulangan episode nyeri, kelemahan, marah, cemas dan gangguan tidur. Toleransi nyeri dapat ditingkatkan dengan obat-obatan, alkohol, hipnotis, kehangatan, distraksi dan praktek spiritual (Le Mone & Burke).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi reaksi nyeri tersebut antara lain:
1. Pengalaman Nyeri Masa Lalu
Lebih berpengalarnan individu dengan nyeri yang dialami, makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan oleh nyeri tersebut. Individu ini mungkin akan lebih sedikit mentoleransi nyeri; akibatnya, ia ingin nyerinya segera reda dan sebelum nyeri tersebut menjadi lebih parah Reaksi ini hampir pasti terjadi jika individu tersebut mencrima peredaan nyeri yang tidak adekuat di masa lalu. Individu dengan pengalaman nyeri berulang dapat mengetahui ketakutan
peningkatan
nyeri
dan
pengobatannva
tidak
adekuat
(Smeltzer
&
Bare). Beberapa pasien yang tidak pernah mengalami nyeri hebat, tidak menyadari seberapa hebatnya nyeri yang akan dirasakan nanti. Umumnya, orang yang sering mengalami nyeri dalam hidupnya, cenderung mengantisipasi terjadinya nyeri yang lebih hebat (Taylor & Le Mone).
2. Kecemasan
Toleransi nyeri, titik di mana nyeri tidak dapat ditoleransi lagi, beragam diantara individu. Toleransi nyeri menurun akibat keletihan, kecemasan, ketakutan akan kematian, marah, ketidakberdayaan, isolasi sosial, perubahan dalarn identitas peran,
kehilangan
kemandirian
dan
pengalarnan
masa
lalu
(Smeltzer
&
Bare). Kecemasan hampir selalu ada ketika nyeri diantisipasi atau dialami secara langsung. Ia cenderung meningkatkan intensitas nyeri yang dialami. Ancaman dari sesuatu yang tidak diketahui lebih mengganggu dan menghasilkan kecemasan daripada ancaman dari sesuatu yang telah dipersiapkan. Studi telah mengindikasikan bahwa pasien yang diberi pendidikan pra operasi tentang hasil yang akan dirasakan pasca operasi tidak mencrima banyak obat-obatan untuk nyeri dibandingkan orang yang mengalami prosedur operasi yang sama tetapi tidak diberi pendidikan pra operasi. Nyeri menjadi lebih buruk ketika kecemasan, ketegangan dan kelemahan muncul (Taylor & Le Mone). Umumnya diyakini bahwa kecemasan akan meningkatkan nyeri, mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaan. Namun, kecemasan yang relevan atau berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri (Smeltzer & Bare).
Ditinjau dari aspek fisiologis, kecemasan yang berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri. Secara klinik, kecemasan pasien menyebabkan menurunnya kadar serotonin. Serotonin merupakan neurotransmitter yang memiliki andil dalam memodulasi nyeri pada susunan saraf pusat. Hal inilah yang mengakibatkan peningkatan sensasi nyeri (Le Mone & Burke).
Jadi, sistem analgetika ini dapat memblok sinyal nyeri pada tempat masuknya ke medulla spinalis (Guyton).δSerotonin merupakan salah satu neurotransmitter yang diproduksi oleh nucleus rafe magnus dan lokus seruleus. Ia berperan dalam sistem analgetik otak. Serotonin menyebabkan neuron-neuron lokal medulla spinalis mensekresi enkefalin. Enkefalin dianggap dapat menimbulkan hambatan presinaptik dan postsinaptik pada serabut-serabut nyeri tipe C dan A Selain itu keberadaan endorfin dan enkefalin juga membantu menjelaskan bagaimana orang yang berbeda merasakan tingkat nyeri yang berbeda dari stimuli yang sama. Kadar endorfin beragam di antara individu, seperti halnya faktor- faktor seperti kecemasan yang mempengaruhi kadar endorfin. Individu dengan endorfin yang banyak akan lebih sedikit merasakan nyeri. Sama halnya aktivitas fisik yang berat diduga dapat meningkatkan pembentukan endorfin dalarn sistem kontrol desendens (Smeltzer & Bµ,re,).
3. Umur
Umur dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah waktu hidup atau ada sejak dilahirkan (Poerwadarminta). Menurut Ramadhan (2001), umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Umumnya lansia menganggap nyeri sebagai komponen alamiah dari proses penuaan dan dapat diabaikan atau tidak ditangani oleh petugas kesehatan. Di lain pihak, normalnya kondisi nycri hebat pada dewasa muda dapat dirasakan sebagai keluhan ringan pada dewasa tua. Orang dewasa tua mengalami perubahan neurofisiologi dan mungkin mengalami penurunan persepsi sensori stimulus serta peningkatan ambang nyeri. Selain itu, proses penyakit kronis yang lebih umum terjadi pada dewasa tua seperti penyakit gangguan, kardiovaskuler atau diabetes mellitus dapat mengganggu transmisi impuls saraf normal (Le Mone & Burke)
Menurut Giuffre, dkk. (1991), cara lansia bereaksi terhadap nyeri dapat berbeda dengan cara bereaksi orang yang lebih muda. Karena individu lansia mempunyai metabolisme yang lebih lambat dan rasio lemak tubuh terhadap massa otot lebih besar dibanding individu berusia lebih muda, oleh karenanya analgesik dosis kecil mungkin cukup untuk menghilangkan nyeri pada lansia. Persepsi nyeri pada lansia mungkin berkurang sebagai akibat dari perubahan patologis berkaitan dengan beberapa penyakita (misalnya diabetes), akan tetapi pada individu lansia yang sehat persepsi nyeri mungkin tidak berubah (Smeltzer & Bare).
Diperkirakan lebih dari 85% dewasa tua mempunyai sedikitnya satu masalah kesehatan kronis yang dapat menyebabkan nyeri. Lansia cenderung mengabaikan lama sebelum melaporkannya atau mencari perawatan kesehatan karena sebagian dari mereka menganggap nyeri menjadi bagian dari penuaan normal. Sebagian lansia lainnya tidak mencari perawatan kesehatan karena mereka takut nyeri tersebut menandakan penyakit yang serius. Penilaian tentang nyeri dan ketepatan pengobatan harus didasarkan pada laporan nyeri pasien dan pereda ketimbang didasarkan pada usia (Smeltzer & Bare).
4. Jenis Kelamin
Menurut Oakley (1972) jenis kelarnin (sex) merupakan perbedaan yang telah dikodratkan Tuhan, olch sebab itu, bersifat permanen. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak sekadar bersifat biologis, akan tetapi juga dalam aspek sosial kultural. Perbedaan secara sosial kultural antara laki-laki dan perempuan merupakan dampak dari sebuah proses yang membentuk berbagai karakter sifat gender. Perbedaan gender antara manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan oleh berbagai faktor terutarna pembentukan, sosialisasi, kemudian diperkuat dan dikonstruksi baik secara sosial kultural, melalui ajaran keagamaan maupun negara (Ahyar & Anshari)
Karakteristik jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri. Berbagai penyakit tertentu ternyata erat hubungannya dengan jenis kelatnin, dengan berbagai sifat tertentu. Penyakit yang hanya dijumpai pada jenis kelamin tertentu, terutama yang berhubungan erat dengan alat reproduksi atau yang secara genetik berperan dalam perbedaan jenis kelarnin (Noor).
Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang berbeda dapat belajar dengan cepat untuk mengabaikan nyeri daripada mengeksploitasi nyeri untuk rnemperoeh perhatian dan pelayanan dari anggota keluarga. Anak-anak mungkin belajar bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan nyeri. Anak perempuan boleh pulang ke rumah sambil menangis ketika lututnya terluka, sedangkan anak laki-laki diberitahu untuk berani dan tidak menangis. Laki-laki dan perempuan dewasa mungkin berpegang pada pengharapan gender ini sehubungan dengan komunikasi nyeri (Taylor & Le Mone).
Dalam banyak budaya, laki-laki merupakan figur yang dominan. Dalam budaya yang menganut paham ini, laki-laki membuat keputusan untuk anggota keluarga lain seperti halnya untuk dirinya sendiri. Dalam budaya dimana laki-laki merupakan figur dominan, maka perempuan cenderung untuk pasif. Dalam keluarga Afrika-Amerika pada banyak keluarga caucasian, perempuan sering menjadi figur yang dominan (Taylor & Le Mone).
Pengetahuan tentang anggota keluarga yang dominan sangat penting sebagai bahan pertimbangan untuk rencana keperawatan. Jika anggota keluarga dominan yang sakit maka kemungkinan anggota keluarga lain akan menjadi cemas dan bingung. Jika anggota keluarga non dominan yang sakit, maka ia akan meminta pertolongan secara verbal (Taylor & Le Mone).
Pada tahun 1995, Vallerand meninjau penelitian tentang nyeri pada wanita dan mengusulkan implikasi untuk praktik klinik. Meskipun penelitian tidak menemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan nyerinya, pengobatan ditemukan lebih sedikit pada perempuan. Perempuan lebih suka mengkomunikasikan rasa sakitnya, sedangkan laki-laki menerima analgesik opioid lebih sering sebagai pengobatan untuk nyeri (Taylor & Le Mone).
5.
Sosial Budaya
Karena norma budaya mempengaruhi sebagian besar sikap, perilaku, dan nilai keseharian kita, wajar jika dikatakan budaya mempengaruhi reaksi individu terhadap nyeri. Bentuk ekspresi nyeri yang dihindari oleh satu budaya mungkin ditunjukkan oleh budaya yang lain (Taylor & Le Mane).
Menurut Zatzick dan Dimsdale (1990), budaya dan etniksitas mempunyai pengaruh pada cara seseorang bereaksi terhadap nyeri (bagaimana nyeri diuraikan atau seseorang berperilaku dalam berespons terhadap nyeri). Namun, budaya dan etnik tidak mempengaruhi persepsi nyeri (Smeltzer & Bare).
Mengenali nilai-nilai kebudayaan yang dimiliki seseorang dan memahami mengapa nilai-nilai ini berbeda dari nilai-nilai kebudayaan lainnya membantu kita untuk menghindari mengevaluasi perilaku pasien berdasarkan pada harapan dan nilai budaya seseorang. Perawat yang mengetahui perbedaan budaya akan mempunyai pemahaman yang lebih besar tentang nyeri pasien dan akan lebih akurat dalam rnengkaji nyeri dan reaksi perilaku terhadap nyeri juga efektif dalarn menghilangkan nyeri pasien (Smeltzer & Bare).
6.
Nilai AgamaPada beberapa agama, individu menganggap nyeri dan penderitaan sebagai cara untuk membersihkan dosa. Pemahaman
ini membantu individu menghadapi nyeri dan menjadikan sebagai sumber kekuatan. Pasien dengan kepercayaan ini mungkin menolak analgetik dan metode penyembuhan lainnya; karena akan mengurangi persembahan mereka (Taylor & Le Mane).
7.
Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat
Lingkungan dan kehadiran dukungan keluarga juga dapat mempengaruhi nyeri seseorang. Banyak orang yang merasa lingkungan pelayanan kesehatan yang asing, khususnya cahaya, kebisingan, aktivitas yang sama di ruang perawatan intensif, dapat menambah nyeri yang dirasakan.
Pada beberapa pasien, kehadiran keluarga yang dicintai atau teman bisa mengurangi rasa nyeri mereka, namun ada juga
yang lebih suka menyendiri ketika merasakan nyeri. Beberapa pasien menggunakan nyerinya untuk rnemperoleh
perhatian khusus dan pelayanan dari keluarganya (Taylor & Le Mone).
G. Prinsip Pengelolaan Nyeri Pascabedah
1. Mencegah atau meminimalkan terjadinya sensitisasi perifer dan sensitisasi sentral
2. Sensitisasi perifer dapat ditekan dengan: anastesi local dan NSAIDs (COX1 atau COX2)
3. Sensitisasi sentral dapat ditekan dengan: Opioid (morfin, petidin, fentanil) dan m agonist (tramadol)
4. Kombinasi keduanya (balans analgesia) : NSAIDs + opioid à synergism
Tindakan
Nonfarmakologis. Banyak pasien dan anggota tim kesehatan cenderung untuk memandang obat sebagai satu-satunya metode untuk menghilangkan nyeri. Namun begitu, banyak aktivitas kaperawatan nonfarmakologis yang dapat membantu dalam menghilangkan nyeri. Meskipun asda beberapa lapran anekdot mengenai ketidakefektifan tindakan-tindakan ini, sedikiy diantaranya yang belum dievaluasi melalui penelitian riset yang sistematik. Metode pereda nyeri nonfarmakologis biasanya mempunyai resiko yang sangat rendah. Meskipun tindakan tersebut bukan merupakan pengganti untuk obat-obatan, tindakan tersebut mungkin dipelukan atau sesuai untuk mempersingkat episode nyeri yang berlangsung hanya beberapa detik atau menit. Dalam hal ini, terutama saat nyeri hebat yang berlangsung berjam-jam atau berhari-hari, mengkombinasikan teknik nonfarmakologis dengan o bat-obatan mungkin cara yang paling efektif untuk menghilangkan nyeri.
Stimulasi dan Masase Kutanus.
Terori gate control nyeri seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bertujuan menstimulasi serabut-serabut yamg menstransmisikan sensasi tidak nyeri memblok atau menurunkan transmisi, impuls nyeri. Beberapa strategi penghilan nyeri nonfarmakologis. Termasuk menggosok kulit dan menggunakan panas dan dingin, adalah berdasarkan mekanisme ini.
Masase adalah stimulasi kuteneus tubuh secara umum, sering dipusatkan pada punggung dan bahu. Masase tidak secara spesifik menstimulasi reseptor yang sama seperti reseptor nyeri tetapi dapat mempunyai dampak melalui sistem control desenden. Masase dapat membuat pasien lebih nyaman karena masase membuat relaksasi otot.
Terapi Es dan Panas.
Terapi es (dingin) dan panas dapat menjadi strategi pereda nyeri yang efektif pada beberapa keadaan, namun begitu, keefektifannya dan mekanisme kerjanya memerlukan studi lebih lanjut. Diduga bahwa terapi es dan panas bekerja dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non-noniseptor) dalam reseptor yang sama seperti pada cedera.
Terapi es dapat memnurunkan prostaglandin, yang memperkuat sensivitas reseptor nyeri dan subkutan lain [ada tempat cedera dengan menghambat proses inflamasi. Agar efektif, es harus diletakkan pada tempat cedera segera setelah cedera terjadi. Cohn dkk. (1989) menunjukkan bahwa saat es diletakkan disekitar lutut segara setelah pembedahan dan selama 4 hari pasca operasi, kebutuhan anlgesik menurun sekitar 50%.
Penggunaan panas mempunyai keuntungan meningkatakan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. Namun demikian, menggunaka panas kering dengan lampu pemanas tampak tidak seefektif penggunaan es (Nam & Park, 1991). Baik terapi panas kering dan lembab kemungkinan memberi analgesia tetapi penelitian tambahan diperlukan untuk memehami mekanisme kerjanya dan indikasi penggunaannya yang sesuai. Baik terapi es maupun panas harus digunakan dengan hati-hati dan dipantau dengan cermat untuk menghindari cedera kulit.
Stimulasi Saraf Elektris Transkutan
Stimulasi saraf transkutan (TENS) menggunakan unit yang dijalankan oleh baterai dengan elektroda yang dipasang pada kulit untuk menghasilkan sensasi kesemutan , menggetar atau menegung pada area nyeri. TENS telah digunakan baik pada nyeri akaut dan kronik. TENS diduga dapat menurunkan nyeri dengan menstimulasi reseptor tidak nyeri (non-nosiseptor) dalam area yang sama seperti pada serabut yang menstrasmisikan nyeri. Mekanisme ini sesuai dengan teori nyeri gate control. Reseptor tidak nyeri diduga memblok transmisi sinyal nyeri ke otak pada jaras asendens saraf pusat. Mekanisme ini akan menguraikan keefekitan stimulasi kutan saat digunakan pada araea yang asama seperti pada cedera. Sebagai contoh, saat TENS digunakan apda pasien pasca operatif
elektroda diletekkan disekitar luka bedah. Penjelasan lain untuk keefektifan TENS adalah efek placebo (pasien mengharapkannya
agar efektif) dan pembentukan endorphin, yamhjuga memblok transmisi nyeri.
Riset telah menuinjukkan bahwa pasien yang telah menerima pengobatan TENS (placebo) yang nyat atau pura-pura selain perawatan standar, akan melaporkan jumlah pereda nyerimyang sama lebih bnesar efeknya daripada pereda nyeri yang diperoleh dengan pengobatan standar saj (Conn dkk.). Beberapa pasien, terutama pasien dengan nyeri kronis, akan melaporkan penurunan nyeri sebanyak 50% dengan menggunakan TENS. Pasien-pasien lainnya tidak merasakan manfaatnya. Pasien mama yang dapat ditolong tidak dapat diprediksai. Bila pasien bener-bener mengalami peredaan nyeri, peredan ini biasanya brawitan cepat terapi engan cepat berkurang saat stimulator dimatikan.
Distraksi.
Distraksi, yang mencakup memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selai pada nyeri, dapat menjadi stategi yang sangat berhasil dan mungkin merupakan mekanisme yang bertnggung jawab pada teknik kognitif efektif lainnya ( Arntz dkk., 1991; Devine dkk., 1990). Sesorang, yang kurang menyadari adanya nyeri atau memberikan sedikit perhatian pada nyeri, akan sedikit terganggu oleh nyeri dan lebih toleransi terhadap nyeri. Distraksi diduga dapat menurunkan persepsi nyeri dengan mensyimulasi sistem control desenden, yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli nyeri yang ditransmisikan ke otak. Keefektifan distraksi tergantung pada kemampuan pasien untuk menerima dan membangkitkan input sensori selain nyeri. Peredaan nyeri secara umum meningkat dalam hubungan langsung engan parsitipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang dipakai dan minat individu dalam stimuli. Karenanya, stimuli penglihatan, pendengaran, dan sentuhan mungkin akan efektif dalam menurunkan nyeri disbanding stimuli satu indera saja.
Distraksi dapat berkisar dari hanya pencegahan monoton sampai menggunakan aktivitas fisik an mental yang sangat kompleks. Kunjungan dari kelarga dan teman-teman sangat efektif dalam meredakan nyeri. Melihat filmlayar lebar dengan ”surround sound” melalui headphone dapat efektif (berikan yang dapat diterima oleh pasien). Orang lainnya mungkin akan mendapat peredaan permainan dan aktivitas (mis., catur) yang membutuhkan konsentrasi. Tidak semua pasien mencapai peredaan melalui distraksi, terutama mereka yang dalam nyeri hebat, pasien mungkin tidak dapat berkonsentrasi cukup baik untuk ikut serta dalam aktivitas fisik atau mental yang kompleks.
Seseorang yang tidak mendapat manfaat dari distraksi harus dipikirkan. Pasien yang menggunakan pompa ADP, selama waktu distraksi efekatif mungkun tidak menggunkan analgesia apapun. Tekinik distraksi biasanya berakhir mendadak (y.i., aktivitasnya berakhir atau film yang ditonton berakhir) dan pasien dibiarkan dalam kadar opioid subtrapeutik dalam serum. Bila distrksi intermiten digunakan untuk meredakan nyeri, input opioid kadar dasar melelui pompa ADP mungkin diresepkan, sehingga ketika distraksi berakhir, tidak akan diperlukan untuk melakukan pengejaran kadar dalam serum.
Teknik Relaksasi.
Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri. Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa relaksasi efektif dalam meredakan nyeri punggung (Tunner dan Jensen, 1993; Altmaier dkk. 1992). Beberapa penelitian, bagaimanapun, telah menunjukkan bahwa relaksasi ecektif dalam menurunkan nyeri pasca operasi (Lorenti, 1991; Miller & Perry, 1990). Ini mungkin karena relatif kecilnya otot-otot skeletal dalam nyeri pasca operatif atau kebutuhan pasien untuk melakukan teknik relaksasi tersebut agar efektif. Teknik tersebut tidak mungkin dipraktekkan jika hanya diajarkan sekali, segera sebelum operasi. Pasien yang sudah mengetahui tentang teknik relaksasi mungkin hanya diingatkan untuk menggunakan teknik tersebut untuk menurunkan atau mencegah menigkatnya yeri
Teknik relaksasi yang sederhana terdiri atas napas abdomen dengan frekuensi lambat, berirama. Pasien dapat memejamkan matanya dan bernapas dengan perlahan dan nyaman. Irama yang konstan dapat diprtahankan dengan menghitung dalam hati dan lambat bersama setiap inhalasi (” hirup, dua, tiga ”) dan ekhalasi ( hembusakn, dua, tiga ). Pada saat perawat mengajarkan teknik ini, akan sangat membantu bila menghitung dengan keras bersama pasien oada awalanya. Napas yang lambat, berirama juga dapat digunakan sebagai teknik distraksi. Teknik relaksasi, juga tindakan pereda nyeri noninvasif lainnya, mungkin memerlukan latihan sebelum pasien menjadi terampil menggunkannya.
Hampir semua orang dengan nyeri kronis mendapatkan manfaat dari metode-metode relaksasi. Periode relaksasi yang teratur dapat
membantu untuk melawan keletihan dan ketegagan otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan yang meningkatkan nyeri.
Imajinasi Terbimbing.
Imajinasi terbimbing adalah menggunakan imajinasi seseorang dalam suatu cara yang dirancang secara khusus untuk mencapai efek positf tertentu. Sebagai contoh, imajinasi terbimbing untuk relaksasi dan meredakan nyeri dapat terdiri atas menggabungkan suatu napas berirama lambat denfgan suatu bayangan mental relaksiasi dan kenyamanan. Dengan mata terpejam, individu diinstruksikan untuk membayangkan bahwa setiap napas yang diekhalasi secara lambat ketegangan otot dan ketidak nyaman dikeluarkan, menyebakan tubuh yang rileks dan nyaman. Setip kali menghirup napas, pasien harus membayangkan energi penyembuh dialairkan ke bagian yang tidak nyaman. Setiap kali napas di hembuskan, pasien diinstruksikan untuk membayangkan bahwa udara yang dihembuskan membawa pergi nyeri dan ketegangan.
Jika imajinasi terpadu diharapkan agar efektif, doibutuhkan waktu yang banyak untuk menjelaskan tekniknya dan waktu untuk pasien mempraktekkannya. Biasanya, pasien diminta untuk mempraktikkan imajinasi terbimbing selama sekitar 5 menit, tiga kali sehari. Bebrapa hari praktik mungkin dierlukan sebelum intensitas nyeri dikurangi. Banyak pasien mulai mengalami efek rileks dari imajinasi terbimbing saat pertama kali meraka mencobanya. Nyeri mereda dapat berlanjut selam berjam-jan setelah imajinasi digunakan. Pasien harus diinformasikan bahwa imajinasi terbimbing hanya dapat berfungsi pada beberapa orang. Imajinasi terbimbing harus digunakan hanya sebagai tambahan dari bentuk pengobatan yang telah terbukti, sampai riset telah menunjukkan apakah dan bilakah tekinik ini efektif.
Hipnosis.
Hipnosis efktif dalam meredakan nyeri atau menurunkan jumlah analgesik yang dibutuhkan pada nyeri akut dan kronis. Teknik ini mungkin membantu dalam memberikan peredaan pada nyeri terutama dalam situasi sulit ( mis., lika bakar ). Mekanisme bagaimana kerjanya hipnosis tidak jelas tetapi tidak tampak diperantari oleh sistem endorfin. (Moret dkk.,1991). Keefektifan hipnosis tergantung pada kemudahan hipnotik individu. Pada beberapa kasus hipnosis dapat efekatif pada pengobatan pertama; keefektifannya meningkat dengan tambahan sel hipnotik berkutnya. (Lewis,1992). Bagaimanapun pada beberapa kasus tekinik inimtidak akan bekerja. Pada kebenyakan situasi hipnosis harus dicetuskan oleh orng yang terlatih secara khusus ( seringkali seoramg psikolog atau perawat dengan pelatihan yang dikhususkan untuk hipnosis) dan dapat efektif selain pengunaan analgesik standar.
Metoda Bedah-Neuro dari Penatalaksanaan Nyeri.
Beberapa pendekatan bedah neuro tersedia dan telah digunakan secara berhasil bagi pasien yang nyerinya tidak dapat dihilangkan
atau dikontrol secara memuaskan dengan medikasi dan pendekatan nonbedah lainnya.(Smeltzer & Bare).
Sumber:
1.Black, M.J, Ester M & Jacobs. (1997). Medikal Surgical Nursing; Clinical Management For Continvity of Care. WB Saunder
Company.
Tokyo
2.Corwin,
E.J.
(1997).
Buku
Saku
Patofisiologi.
Penerbit
Buku
Kedokteran
EGC.
Jakarta.
3.ERB, Kozier, Blais & Wilkinson (1995) Fundamental Of Nursing ; Consepts, Process, And Practice II, Addison Wesley Publishing
Company.
4.Gabriel, F.J. (199
Fisika Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 5.Gibson, John (1992). Diagnosa Gejala Penyakit Untuk Perawat. Penerbit Yayasan Essentia Media Yogyakarta. 6.Howe, L.G & F.I.H Whitehead. (1992). Lokal Anaesthesia In Dentistry. Alih Bahasa Lilian Yuwono. Penerbit Hipokrates. Jakarta 7.Junaidi,
P
(Et.Al).
1997.
Kapita
Selekta
Kedokteran.
Penerbit
Media
Aesculapius
FKUI.
Jakarta
8.Lee,
M.Jenifer
(1990).
Segi
Praktis
Fisioterapi.
Binarupa
Aksara.
Jakarta 9.Long, C.B. (1996). Medikal Surgical Nursing. Alih Bahasa Oleh Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan. Bandung 10.Soeparman & Sarwono W (1999). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Penerbit Balai Penerbit FKUI. Jakarta 11.Taylor, C, Carol L & Pricilla.L. (1997). Fundamental Of Nursing ; The Art and Science of Nursing. Lippicott Philadelphia.
Pengertian Tehnik Distraksi
Tehnik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Tehnik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri. jika seseorang menerima input sensori yang berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurang atau tidak dirasakan oleh klien),. Stimulus yang menyenangkan dari luar juga dapat merangsang sekresi endorfin, sehingga stimulus nyeri yang dirasakan oleh klien menjadi berkurang. Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung dengan partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh karena itu, stimulasi penglihatan, pendengaran dan sentuhan mungkin akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibanding stimulasi satu indera saja (Tamsuri, 2007).
Jenis Tehnik Distraksi antara lain :
1) Distraksi visual
Melihat pertandingan, menonton televisi, membaca koran, melihat pemandangan dan gambar termasuk distraksi visual.
2) Distraksi pendengaran
Diantaranya mendengarkan musik yang disukai atau suara burung serta gemercik air, individu dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik tenang seperti musik klasik, dan diminta untuk berkosentrasi pada lirik dan irama lagu. Klien juga diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu seperti bergoyang, mengetukkan jari atau kaki. (Tamsuri, 2007).
Musik klasik salah satunya adalah musik Mozart. Dari sekian banyak karya musik klasik, sebetulnya ciptaan milik Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) yang paling dianjurkan. Beberapa penelitian sudah membuktikan, Mengurangi tingkat ketegangan emosi atau nyeri fisik. Penelitian itu di antaranya dilakukan oleh Dr. Alfred Tomatis dan Don Campbell. Mereka mengistilahkan sebagai “Efek Mozart”.
Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada karya-karya Mozart mampu merangsang dan memberdayakan daerah kreatif dan motivatif di otak. Yang tak kalah penting adalah kemurnian dan kesederhaan musik Mozart itu sendiri. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan (Andreana, 2006)
3) Distraksi pernafasan
Bernafas ritmik, anjurkan klien untuk memandang fokus pada satu objek atau memejamkan mata dan melakukan inhalasi perlahan melalui hidung dengan hitungan satu sampai empat dan kemudian menghembuskan nafas melalui mulut secara perlahan dengan menghitung satu sampai empat (dalam hati). Anjurkan klien untuk berkosentrasi pada sensasi pernafasan dan terhadap gambar yang memberi ketenangan, lanjutkan tehnik ini hingga terbentuk pola pernafasan ritmik.
Bernafas ritmik dan massase, instruksi kan klien untuk melakukan pernafasan ritmik dan pada saat yang bersamaan lakukan massase pada bagaian tubuh yang mengalami nyeri dengan melakukan pijatan atau gerakan memutar di area nyeri.
4) Distraksi intelektual
Antara lain dengan mengisi teka-teki silang, bermain kartu, melakukan kegemaran (di tempat tidur) seperti mengumpulkan perangko, menulis cerita.
5) Tehnik pernafasan
Seperti bermain, menyanyi, menggambar atau sembayang
6) Imajinasi terbimbing
Adalah kegiatan klien membuat suatu bayangan yang menyenangkan dan mengonsentrasikan diri pada bayangan tersebut serta berangsur-angsur membebaskan diri dari dari perhatian terhadap nyeri
http://qittun.blogspot.com/2008/10/tehnik-distraksi.html
Distraksi dan relaksasi merupakan metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan perhatian pasien pada sesuatu selain nyeri. Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial.
Hasil penelitian didapatkan intensitas nyeri awal kelompok kontrol hampir seluruh responden yaitu 5 responden (83,33%) tingkat nyerinya berat, kelompok distraksi sebagian besar yaitu 4 responden (66,67%) mengalami tingkat nyeri berat, kelompok relaksasi sebagian besar yaitu 4 responden (66,67%) mengalami tingkat nyeri berat. Intensitas nyeri akhir pada kelompok kontrol sebagian besar responden yaitu 4 responden (66,67%) tingkat nyeri berat, pada kelompok distraksi hampir seluruh responden yaitu 5 responden (83,33%) mengalami nyeri sedang, kelompok relaksasi hampir seluruh responden yaitu 5 responden (83,33%) mengalami nyeri sedang. Hasil analisa menunjukkan ada pengaruh yang signifikan penerapan metode distraksi dan relaksasi terhadap penurunan tingkat nyeri.
http://www.poltekkes-soepraoen.ac.id/?prm=artikel&var=detail&id=27
Tabel1 Klasifikasi Analgesik
Analgesik opioid • Obat analgesik opioid : morfin, metadon, meperidin (petidin), fentanil, buprenorfin, dezosin, butorfanol, nalbufin, nalorfin, dan pentazosin.1
• Mengurangi nyeri dan menimbulkan euforia dengan berikatan pada reseptor opioid di otak, yaitu reseptor µ (mu), κ (kappa), dan δ (delta).1
NSAID /(OAINS) • Dibedakan atas kelompok salisilat (asetosal, diflunisal) dan non salisilat.2
• Menghambat enzim sikloogsigenase dalam pembentukan prostaglandin yang dikaitkan dengan kerja analgesiknya dan efek sampingnya.2
1. Analgesik opioid
a. Farmakodinamik
Efek analgesik yang ditimbulkan oleh opioid terutama terjadi sebagai akibat kerja opioid pada reseptor µ.3 Reseptor κ dan δ dapat juga ikut berperan dalam menimbulkan analgesia terutama pada tingkat spinal. Ketiga jenis reseptor utama itu banyak didapatkan baik pada saraf yang mentranmisi nyeri di medula spinalis maupun pada aferen primer yang merelai nyeri. Agonis opioid melalui reseptor µ , κ dan δ pada ujung prasinaps aferen primer nosiseptif mengurangi penglepasan transmiter, dan selanjutnya menghambat saraf yang mentransmisi nyeri di kornu dorsalis medula spinalis. Dengan demikian opioid memilki efek analgesik yang kuat melalui pengaruh pada medula spinalis. Selain itu, agonis µ juga menimbulkan efek inhibisi pascasinaps melalui reseptor µ di otak. 3
Pemberian agonis opioid ke medula spinalis akan menimbulkan analgesia setempat, sedangkan efek samping sistemik karena pengaruh supraspinal minimal. Penglepasan opioid endogen ikut berperan dalam menimbulkan analgesia oleh pemberian opioid. Meskipun agonis opioid terutama bekerja pada reseptor µ, akan tetapi selanjutnya hal ini menyebabkan terjadinya penglepasan opioid endogen yang bekerja pada reseptor κ dan δ. Efek analgesik morfin dan opioid lain sangat selektif dan tidak disertai oleh hilangnya fungsi sensorik lain yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan dan pendengaran; bahkan persepsi stimulasi nyeri pun tidak selalu setelah pemberian morfin dosis terapi. Yang terjadi adalah suatu perubahan reaksi terhadap stimulus nyeri itu; pasien sering mengatakan bahwa nyeri masih ada tetapi ia tidak menderiata lagi. Berbeda dengan salisilat, morfin dapat mengatasi nyeri yang berasal dari alat dalam maupun yang berasal dari integumen, otot dan sendi.
a. Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat diabsorsi melalui kulit luka. Morfin dapat diabsorpsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Setelah pemberian dosis tunggal, sebagian morfin mengalami konyugasi dengan asam glukoronat di hepar, sebagian dikeluarkan dalam hasil ekskresi. Morfin yang terkonyugasi ditemukan dalam empedu. Sebagian yang sangat kecil dikeluarkan bersama cairan lambung.
Tabel 2 Daftar Obat Analgesik Opioid
Nama obat Efek analgesik Cara pemberian dan Durasi kerja Indikasi
Morfin Mengurangi persepsi nyeri di otak (meningkatkan ambang nyeri), mengurangi respon psikologis terhadap nyeri (menimbulkan euforia), dan menyebabkan mengantuk/tidur (efek sedatif) walau ada nyeri. Diberikan secara per oral, injeksi im, iv, sc, dan per rektal, durasinya rata-rata 4-6 jam. Diindikasikan untuk nyeri berat yang tak bisa dikurangi dengan analgesik non-opioid atau obat analgesik opioid lain yang lebih lemah efeknya.
Metadon Mempunyai efek analgesik mirip morfin, tetapi tidak begitu menimbulkan efek sedatif. Dieliminasi dari tubuh lebih lambat dari morfin (waktu paruhnya 25 jam) dan gejala withdrawal-nya tak sehebat morfin, tetapi terjadi dalam jangka waktu lebih lama. Diberikan secara per oral, injeksi IM, dan SC Diindikasikan untuk analgesik pada nyeri hebat, dan juga digunakan untuk mengobati keterganungan heroin.
Meperidin (petidin) Menimbulkan efek analgesik, efek euforia, efek sedatif, efek depresi nafas dan efek samping lain seperti morfin, kecuali konstipasi. Efek analgesiknya muncul lebih cepat daripada morfin, tetapi durasi kerjanya lebih singkat, hanya 2-4 jam. Diindikasikan untuk obat praoperatif pada waktu anestesi dan untuk analgesik pada persalinan.
Fentanil Merupakan opioid sintetik, dengan efek analgesik 80x lebih kuat dari morfin, tetapi depresi nafas lebih jarang terjadi. Diberikan secara injeksi IV, dengan waktu paruh hanya 4 jam dan dapat digunakan sebagai obat praoperatif saat anestesi.
Tabel 3 Beberapa Antagonis Untuk Opioid
Nama obat Keterangan
Nalokson Hanya diberikan secara injeksi IV, onsetnya cepat, dengan durasi kerja 1-4 jam.
Naltrekson Diberikan per oral, lebih kuat dari nalokson dan durasinya lebih lama.
Nalmefen Aktivitas farmakologis yang sama dengan naltrekson, tetapi mempunyai durasi yang lebih lama.
1. Analgesik non-opioid atau NSAID/OAINS
Obat AINS dikelompokkan sebagai berikut:
• Derivat asam salisilat, misalnya aspirin
• Derivat paraaminofenol, misalnya parasetamol
• Derivat asam propionat, misalnya ibuprofen, ketoprofen, naproksen.
• Derivat asam fenamat, misalnya asam mefenamat
• Derivat asam fenilasetat, misalnya diklofenak.
• Derivat asam asetat indol, misalnya indometasin.
• Derivat pirazolon, misalnya fenilbutazon dan oksifenbutazon
• Derivat oksikam, misalnya piroksikam dan meloksikam.
Secara farmakologis praktis OAINS dibedakan atas kelompok salisilat (asetosal, diflunisal) dan non salisilat. Sebagian besar sediaan–sediaan golongan OAINS non salisilat ternmasuk derivat as. Arylalkanoat . Mekanisme kerja utamanya ialah dalam menghambat enzim sikloogsigenase dalam pembentukan prostaglandin yang dikaitkan dengan kerja analgesiknya dan efek sampingnya. Kebanyakan analgesik OAINS diduga bekerja diperifer . Efek analgesiknya telah kelihatan dalam waktu satu jam setelah pemberian per-oral. Sementara efek antiinflamasi OAINS telah tampak dalam waktu satu-dua minggu pemberian, sedangkan efek maksimalnya timbul berpariasi dari 1-4 minggu 2.
Setelah pemberiannya peroral, kadar puncaknya NSAID didalam darah dicapai dalam waktu 1-3 jam setelah pemberian, penyerapannya umumnya tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Volume distribusinya relatif kecil (< 0.2 L/kg) dan mempunyai ikatan dengan protein plasma yang tinggi biasanya (>95%). Waktu paruh eliminasinya untuk golongan derivat arylalkanot sekitar 2-5 jam, sementara waktu paruh indometasin sangat berpariasi diantara individu yang menggunakannya, sedangkan piroksikam mempunyai waktu paruh paling panjang (45 jam). Penampilan farmakokinetik golongan asam anthranilat (fenamat dan glafenin) umumnya mirip dengan derivat asma arylasetat. Efek samping umum OAINS 4 ialah;
• Gangguan saluran cerna, Oleh karena itu umumnya OAINS diberikan pada saat sedang makan atau sesudah makan agar dapat ditolerir
• Nefrotoksisitas, acute interstitial nephritis dengan atau tanpa nephrotic syndrome, functional renal fairule, acute renal fairule, analgesic nephropathy, chronic interstitial disease
• Perubahan kesetimbangan air dan elektrolit, yaitu retensi air dan natrium disertai dengan hiperkalemia.
Nama obat Keterangan
Aspirin (asam asetilsalisilat atau asetosal) • Mempunyai efek analgesik, antipiretik, dan antinflamasi.
• Efek samping utama : perpanjangan masa perdarahan, hepatotoksik (dosis besar) dan iritasi lambung. Diindikasikan pada demam, nyeri tidak spesifik seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi (artritis rematoid). Aspirin juga digunakan untuk pencegahan terjadinya trombus (bekuan darah) pada pembuluh darah koroner janung dan pembuluh darah otak
Asetaminofen (parasetamol) • Merupakan penghambat prostaglandin yang lemah.
• Parasetamol mempunyai efek analgesik dan anipiretik, tetapi kemampuan antinflamasinya sangat lemah.
• Intoksikasi akut parasetamol adalah N-asetilsistein, yang harus diberikan dalam 24 jam sejak intake parasetamol.
Ibuprofen • Mempunyai efek analgesik, anipiretik, dan antinflamasi, namun efek antinflamasinya memerlukan dosis lebih besar.
• Efek sampingnya ringan, seperti sakit kepala dan iritasi lambung ringan.
Asam mefenamat Mempunyai efek analgesik dan antinflamasi, tetapi tidak memberikan efek anipiretik.
Diklofenak Diberikan untuk antinflamasi dan bisa diberikan untuk terapi simtomatik jangka panjang untuk artritis rematoid, osteoartritis, dan spondilitis ankilosa.
Indometasin Mempunyai efek anipiretik, antinflamasi dan analgesik sebanding dengan aspirin, tetapi lebih toksik.
Fenilbutazon Hanya digunakan untuk antinflamasi dan mempunyai efek meningkatkan ekskresi asam urat melalui urin, sehingga bisa digunakan pada artritis gout.
Piroksikam Hanya diindikasikan untuk inflamasi sendi.
Kelompok obat gout • Pada keadaan akut : kolkisin, fenilbutazon, dan indometasin.
• Mengurangi kadar asam urat : probenesid, allopurinol dan sulfinpirazon
3. Nyeri pada Kanker
Nyeri bisa bersifat akut (kurang dari 1 bulan) dan bisa bersifat kronik (lebih dari 3-6 bulan). Pada nyeri yang kronik, tidak mempunyai efek protektif dan semakin lama semakin memperburuk penyakitnya serta fungsi dari organ-organ sekitarnya. Nyeri pada kanker biasanya bersifat kronik. Nyeri pada kanker bisa bersifat nosiseptif (langsung berhubungan dengan kerusakan organ yang bersifat tajam dan berdenyut-denyut) atau neuropatik (terbakar, kesemutan, dan hipersensitivitas pada sentuhan atau rangsang dingin) yang timbul akibat kerusakan atau disfungsi sistem saraf. Dan bisa juga bersifat kombinasi anara nosiseptif dan neuropatik.
Terdapat 2 macam analgesik untuk kanker yaitu analgesik murni yang bekerja langsung untuk menghilangkan rasa nyeri dan Ko-analgesik yang bekerja memperkuat efek obat-obat analgesik dalam upaya menghilangkan rasa nyeri pada kanker.2 Termasuk dalam analgesik murni adalah:
• Obat –obatan Non Opioid (Aspirin, Paracetamol, NSAID),
• Opioid lemah (Kodein, Dihydrocodein, Dextropropoxyfen), dan
• Opioid kuat(Morfin, Diamorfin, Fenazocin, Oxycodon, Fentanyl).
• Dosis Aspirin 500 mg tiap 4-6 jam, Paracetamol 500 mg tiap 4-6 jam, Kodein 10 mg tiap 4-6 jam, Morfin Sulfat, 10 mg tiap 4 jam, Diamorfin HCl 7,5 mg tiap 4 jam, MST Constin 30 mg tiap 12 jam.
Sedangkan obat-obat Ko-analgesik yang sering digunakan adalah:
• Kortikosteroid,
• Muscle Relaxans (Diazepam, Baclofen, Danrolen),
• Obat-obat Psikotropik (Fenotiazin, Butirofenon dan benzodiazepin, anidepresan dan Anikonvulsan), dan
• Obat-obat untuk nyeri neuropatik (anikonvulsan, karbamazepin, fenitoin, oxcarbazepin, gabapentin dan yang paling mutakhir adalah pregabalin).
• Pregabalin (Lyrica). Disamping sebagai obat antikonvulasan, indikasi utama Pregabalin adalah untuk nyeri neuropatik pada kanker. Dosis yang dianjurkan untuk Pregabalin adalah 2 x 75 mg sehari dan dosis yang bermanfaat adalah anara 150 -600 mg per hari. Sebagian besar penderita cukup optimal dengan dosis 150 mg sehari 2 kali. Khasiat dari Pregabalin dapat dilihat pada minggu -minggu pertama pemberian. Dosis Pregabali n bisa ditingkatkan mulai dari 2 x 75 mg, 2 x 150 mg, sampai dengan 2 x 300 mg selang 3 sampai 7 hari. Untuk menghentikan Pregabalin sebaiknya diturunkan pelan –pelan minimal dalam waktu 1 minggu. Obat anidepresans yang lazim dipakai adalah golongan Amitriptylin dengan dosis 25 mg.
WHO juga membuat tahap-tahap prinsip pemberian analgesik. Tahap-tahap itu disebut dengan Analgesic Staircase. 2 Prinsip pemberian analgesik yaitu By the clock (reguler setiap 4 jam), by ladder (bila ringan pakai non -opioid + adjuvan, bila tidak mempan dapat ditingkatkan dengan kombinasi opioid lemah atau opioid kuat), serta by mouth (per-oral). Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam menggunakan analgesik apabila tidak mempan setelah pemberian analgesik janganlah menggani analgesik yang potensinya sama tapi ganilah yang lebih kuat. Bila menggunakan obat-obat nonopioid (dengan atau tanpa adjuvan) nyeri tidak berkurang tambahkan obat-obat opioid analgesik lemah. Dan bila dengan opioid lemah nyeri tetap tidak berkurang sedangkan dosis yang diberikan telah maksimal segeralah menggani dengan obat golongan opioid kuat.
http://elhafiz.sangpujangga.com/archives/187
PROSES KEPERAWATAN OBAT ANALGESIK
ANALGESIK
• Analgesik adalah obat penghilang rasa sakit atau nyeri, seperti sakit kepala atau sendi.
• Analgesik ialah istilah yang digunakan untuk mewakili sekelompok obat yang digunakan sebagai penahan sakit.
• Analgesik : obat yang mengurangi/bahkan mungkin menghilangkan rasa sakit tanpa diikuti hilangnya kesadaran.
Analgesik narkotik bekerja terutama pada sistem saraf pusat.
Sedangkan analgesik non narkotik bekerja pada sistem saraf tepi pada tempat reseptor nyeri. Obat-obatan analgesik mempunyai efek antipiretik, yakni mampu menstabilkan suhu tubuh dan meredakan demam. Obat analgesik termasuk obat antiradang non-steroid (NSAID) seperti salisilat, obat narkotika seperti morfin dan obat sintesis bersifat narkotik seperti tramadol. Obat analgesik antipiretik serta obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara kimiawi.Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golonganini adalah Aspirin, karena itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin ( aspirin-like drugs).
ASETAMINOFEN
Farmakodinamik :
Efek Analgesik parasetamol dan fenasetin serupa dengan salisilat mengurangi nyeri,dari nyeri ringan sampai sedang dengan menghambat biosintesis PG tapi lemah.
Efek Antipiretik, menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat
Efek Anti Inflamasinya sangat lemah/tidak ada, tidak digunakan sebagai anti-inflamasi
Farmakokinetik :
Diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Efek iritasi , erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini.
Indikasi :
Digunakan sebagai analgesik
Digunakan sebagai antipiretik
Efek samping :
Reaksi alergi terhadap derivat Para- aminofenol jarang terjadi Toksisitas akut :
Dosis toksis yang paling serius ialah nekrosis hati
Nekrosis tubuli renalis serta koma hipoglikemik dapat terjadi Hepatotoksisitas dapat terjadi pada pemberian dosis tunggal 10 - 15 gram ( 200 - 250 mg/kgBB ) Parasetamol
DIPIRON
Farmakodinamik:
• Efek analgesik
• Efek antipiretik
• Efek anti-inflamasinya lemah
• Diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna
• Farmakokinetik : Indikasi :
• Hanya digunakan sebagai analgesik-antipiretik
• Efek Anti-inflamasinya lemah
Efek samping :
Semua derivat Pirazolon dapat menyebabkan -agranulositosis -anemia aplastik -trombositopeni -menimbulkan hemolisis -udem, tremor, mual dan muntah, perdarahan lambung -alergi
SALISILAT DAN OBAT-OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID
FARMAKODINAMIK :
• Efek Analgesik, aspirin paling efektif untuk mengurangi nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang
• Efek Antipiretik, aspirin menurunkan suhu yang meningkat, sedangkan suhu badan normal hanya berpengaruh sedikit
• Efek Anti Inflamasi, aspirin adalah penghambat non selektif kedua isoform COX ( Cyclooxygenase ) atau ( COX-I dan COX-II )
• Efek Platelet, aspirin mempengaruhi hemostasis. Dosis rendah tunggal aspirin( 80 mg sehari ) menyebabkan sedikit perpanjangan waktu perdarahan
FARMAKOKINETIK :
Salisilat dengan cepat diserap oleh lambung dan usus kecil bagian atas. Asam salisilat diabsorpsi cepat dari kulit sehat terutama bila digunakan sebagai obat gosok atau salep Salisilat di distribusikan keseluruh jaringan mudah menembus sawar darah otak dan sawar urin
Indikasi :
1. Sebagai obat Analgesik
2. Sebagai obat Antipiretik
3. Untuk terapi Demam reumatik akut
4. Untuk terapi Artritis reumatoid
5. Mencegah trombus koroner, dosis aspirin kecil(325mg/ha ri) yang diminum tiap hari dapat mengurangi insiden infark miokard akut
6. Sebagai counter irritant bagi kulit, bentuk salep atau lini ment
Efek samping :
Tukak lambung atau tukak peptik -perdarahan lambung -anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna -beratnya efek samping ini berbeda pada masing masing obat
Dosis yang berlebihan dapat menyebabkan telinga berdenging, tuli, penglihatan kabur, bahkan kematian.
Asam mefenamat
Asam mefenamat termasuk obat pereda nyeri yang digolongkan sebagai NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs). Asam mefenamat digunakan untuk mengatasi berbagai jenis rasa nyeri, namun lebih sering diresepkan untuk mengatasi sakit gigi, nyeri otot, nyeri sendi dan sakit ketika atau menjelang haid. Seperti juga obat lain, asam mefenamat dapat menyebabkan efek samping.
Salah satu efek samping asam mefenamat yang paling menonjol adalah merangsang dan merusak lambung. Sebab itu, asam mefenamat sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang mengidap gangguan lambung.
PROSES KEPERAWATAN:
NSAID PENGKAJIAN
• Periksa riwayat klien akan adanya alergi terhadap NSAID,termasuk aspirin.Jika terdapat alergi,beritahu perawat atau dokter yg bertanggungjawab.
• Kaji klien terhadap adanya rasa tidak enak pd gastrointestinal dan edema perifer, ke-2 nya merupakan efek samping yang serimg pd NSAID.
• Jika aspirin dipakai untuk dismenore selama dua hari pertama menstruasi, mungkin terjadi pendarahan yang lebih banyak.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Pantau klien akan adanya feses berwarna seperti terjadi perdarahan gusi, petekie dan ekimosis.
Waktu perdarahan dpt diperpanjang jika memakai NSAID. Periksa adanya perubahan dlm hasil laboratorium darah jika klien memakai NSAID dr kelompok pirazolon dan terapi obat emas.
Aspirin tidak boleh dipakai dan merupakan kontraindikasi bagi anakyang mengalami demam dan berusia dibawah 12 tahun, apapun sebabnya, karena adanya bahaya sindroma Reiter (problem neurologis yang berhubungan dengan infeksi virus dan diobati dengan salisilat).
PENYULUHAN PADA KLIEN
1. Penyuluhan pd klien untuk tidak memakai aspirin bersama NSAID lain,dan jika sedang memakai obat NSAID,jangan memakai aspirin.
2. Beritahu klien untuk memakai NSAID,termasuk aspirin bersama makan untuk mengurangi rasa tidak enak pd gastrointestinal.
3. Bertahu klien untuk menghindari alkohol sewaktu memakai NSAID.
4. Nasehatkan wanita untuk tidak memakai NSAID 1-2 hari sebelum menstruasi untuk menghindari banyaknya aliran darah.
5. Nasehatkan wanita dlm kehamilan trimester ke-3 untuk menghindari NSAID,jika terjadi persalinan,mungkin mengalami komplikasi perdarahan.
OBAT PIRAI
Pirai(Gout) : penyakit metabolisme familial yang dikarakterisasi oleh episode berulang artritis akut yang disebabkan oleh endapan monosodium urat pada sendi-sendi dan tulang rawan.
Tinjauan Umum : Pirai biasanya dikaitkan dengan kadar serum yang tinggi dari asam urat, zat yang sulit larut yang merupakan hasil akhir utama dari metabolisme purin.
Pengobatan pirai ditujukan pada pengurangan serangan akut dan mencegah kambuhnya episode pirai dan batu urat.
PROSES KEPERAWATAN :
OBAT2 ANTI PIRAI
Pengkajian
Dapatkan riwayat medis dr klien dengan g3. lambun.ginjal,jantung atau hati
Perencanaan
Klien akan terbebas dr neri gout tanpa mengalami efek samping
Beri tahu klien untuk melaporkan setiap keluhan pd lambung
Anjurkan klien untuk patuh pd jadwal kunjungan dokter dan melakukan pemeriksaan darah dg teratur.
Evaluasi
Evaluasi respon klien terhadap obat anti gout,jk nyeri ttp regimen obat mungkin perlu di ubah
ANALGESIK NARKOTIK
1. Analgesik narkotik, disebut juga agonis narkotik, diresepkan untuk mengatasi nyeri yang sedang sampai berat.
2. Narkotik tidak hanya menekan rangsang nyeri tetapi juga menekan pernafasan dan batuk dengan bekerja pada pusat pernafasan dan batuk pada medulla di batang otak. Salah satu contoh dari narkotik adalah morfin, yang merupakan analgesik kuat yang dapat dengan cepat menekan pernafasan.
3. Kodein tidak sekuat morfin, tetapi dapat meredakan nyeri yang ringan sampai sedang dan menekan batuk. Kodein juga dapat diklasifikasikan ebagai penekan batuk (antitusif).
EFEK SAMPING DAN REAKSI YANG MERUGIKAN
• Tanda-tanda depresi pernafasan (pernafasan <10/>
• Hipotensi ortostatik (turunnya tekanan darah ketika bangun dari posisi duduk atau berbaring)
• takikardia
• mengantuk dan mental berkabut
• konstipasi, dan retensi urin.
• konstriksi pupil (suatu tanda intoksikasi)
• toleransi, dan ketergantungan psikologis serta fisik dapat terjadi pada penggunaan jangka panjang.
Gejala-gejala putus obat (disebut sebagai sindroma abstinensi) biasanya terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah pemakaian narkotik terakhir. Ketergantungan fisik, iritabilitas, diaforesis (berkeringat), gelisah, kedutan otot, serta meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah adalah contoh-contoh dari gejala-gejala putus obat.
KONTRAINDIKASI
Pemakaian analgesik narkotik adalah kontraindikasi bagi pasien dengan cidera kepala. Narkotik memperlambat pernafasan, sehingga mengakibatkan penumpukan CO2. Dengan bertambahnya retensi CO2, pembuluh darah berdilatasi (vasodilatasi), terutama pembuluh darah otak, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.
Analgesik narkotik yang diberikan kepada klien dengan gangguan pernafasan hanya akan mengakibatkan bertambah beratnya distres pernafasan. Pada penderita asma, opioid dapat merelaksasikan atau malah mengkonstriksikan saluran bronkus.
Narkotik dapat menyebabkan hipotensi dan tidak merupakan indikasi bagi klien yang syok atau mereka yang mempunyai tekanan darah yang sangat rendah. Jika diperlukan pemakaian narkotik, dosis perlu disesuaikan, kalau tidak keadaan hipotensi akan semakin memburuk. Bagi orang lanjut usia atau orang yang debil, dosis narkotik biasanya perlu dikurangi.
PROSES KEPERAWATAN ANALGESIK NARKOTIK
Pengkajian
Intervensi Keperawatan
Berikan narkotik sebelum nyeri mencapai puncaknya untuk memaksimalkan efektifitas obat.
Amati klien untuk efek samping dari narkotik, termasuk distres pernafasan (pernafasan <10/menit),>
• Pantau tanda-tanda vital dengan interval cukup sering untuk mendeteksi perubahan pernafasan. Laju pernafasan akan berubah dalam 7-8 menit setelah pemberian intravena, 30 menit setelah injeksi intramuskular, dan sekitar 90 menit setelah injeksi subkutan. Periksa laju pernafasan sebelum memberikan narkotik.
• Pantau keluaran urin klien. Narkotik dapat menyebabkan retensi urin. Keluaran urin harus sekurang-kurangnya 600 ml/hari.
• Periksa bising usus untuk mengetahui apakah terjadi penurunan peristaltik, suatu sebab dari konstipasi. Laksatif ringan atau perubahan diet mungkin diperlukan.
• Periksa klien lanjut usia terhadap efek samping dari narkotik. Dosis mungkin perlu disesuaikan. Tirali tepi tempat tidur dan tindakan pencegahan lainnya mungkin perlu dilakukan.
• Penyuluhan Kepada Klien
• Beritahu klien untuk tidak minum alkohol atau penekan SSp dengan setiap analgesik karena bertambahnya depresi SSP dan pernafasan.
• Anjurkan klien untuk mencari pertolongan profesinal dalam mengurangi adiksi narkotik. Beritahu klien mengenai program pengobatan metadon dan sumber lainnya di daerah saudara.
• Peringati klien bahwa pemakaian narkotik yang terus menerus dapat menimbulkan adiksi.
• Sebelum menjalani pembedahan besar, klien biasanya memerlukan narkotik selama 2-3 hari. Obat, dosis, dan interval dosis berubah-ubah sesuai dengan keperluan klien. Tindakan nonfarmakologik untuk meredakan nyeri mungkin membantu, seperti mengubah posisi, menggosok punggung, dan ambulasi. Jika nyeri menetap, pengobatan mungkin perlu diubah berdasrkan penilaian nyeri.
• Beritahu klien untuk melaporkan jika mengalami pusing atau sulit bernafasa ketika memakai narkotik. Pusing dapat disebabkan oleh hipotensi ortostatik. Nasehatkan klien untuk berjalan dengan hati-hati atau hanya dengan bantuan.
• Beritahu klien untuk melaporkan jika mengalami konstipasi dan retensi urin.
• Evaluasi
• Evaluasi efektifitas dari analgesik narkotik dalam mengurangi atau meredakan nyeri. Jika nyeri menetap setelah beberapa hari, sebab harus ditentukan atau narkotik perlu diganti.
• Evaluasi stabilitas tanda-tanda vital. Tanda-tanda abnormal, seperti penurunan tekanan darah harus dilaporkan.
http://materi-kuliah-akper.blogspot.com/2010/05/proses-keperawatan-obat-analgesik.html
Rabu, 02 Maret 2011
Epistaksis
A.EPISTAKSIS
Epistaksis adalah pendarahan pada hidung yang dapat terjadi akibat sebab local atausebab umum (kelainan sistemik).Epistaksis bukan suatu penyakit,melainkan gejalahsuatu kelainan.
B.ETIOLOGI
Penyebab local
• Trauma, misalnya mengorek hidung, terjatuh, terpukul, benda asing dihidung, trauma sis pembedahan, atau iritasi yang merangsang.
• Infeksi hidung dan sinus paranasal, seperti rinitis, sinusitis; serta granuloma spesifik, seperti lepra dan sifilis.
• Tumon, baik jinak mupun ganas pada hidung, sinus paranasal,dan nasofaring.
• Pengaru lingkungan, misalnya perubahan tekanan atmosfir mendadak seperti pada penerbang dan penyelam (penyakit caisson), atau lingkungan yang udaranya sangat dingin.
• Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan epistaksis ringan disertai ingus berbau busuk.
• Idiopatik, biasanya merupakan epistaksis yang ringan dan berulang pada anak dan remaja.
Penyebab sistemik:
• Penyakit kardiovaskuler,seperti hipertensi dan kelainan pembuluh darah.
• Kelainan darah, seperti trombositopenia, hemophilia, dan leukemia.
• Infeksi sistemik, seperti demam berdarah dengue, influenza, morbili, atau demam tifoid.
• Gangguan endoktrin, seperti pada kehamilan, menars, dan menopause.
• Kelainan congenital, seperti penyakait Osler (hereditary hemorrhagic telangiectasia).
C.PATOFISIOLOGI
Terdapat dua sumber perdarahan yaitu bagian anterior dan posterior.
Pada epistaksis anterior, perdarahan berasal dari pleksus Kiesselbach (yang paling banyak terjadi dan sering terjadi pada anak-anak), atau dari arteri etmoidalis anterior.Biasanya perdarahan tidak begitu hebat dan bila pasien duduk darah akan keluar melalui lubang hidung. Sering kali dapat berhenti spontan dan mudah diatasi.
Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada pasien usia lanjut yang menderita hipertensi,arterosklerosis, atau penyakit kadiovaskuler. Perdarahan biasanya hebat dan Jarang berhenti spontan.
D. PENATALAKSANAAN
Tiga prinsip utama penanggulangan epistaksis:
• menghentikan pendarahan
• mencegah komplikasi
• mencegah berulangnya epistaksis
Alat-alat yang digunakan: lampu kepala, speculum hidung, alat hisap, forsep bayonet, spatel lidah,kateter karet, pililit kapas(cotton applicator), lampu spiritus, kapas,tampon posterior(tampon bellocq), kaselin, saleb anti biotic, larutan kantokain 2% atau semprotan silokain untuk anestasilokal, larutan adrenalin 1/10.000, larutan nitras argen 20-30%, larutan triklorasetat 10%, atau elektro kauter.
Pertama-tama, keadaan umum dan tanda vital harus diperiksa. anamnes is singkat sambil meper siapkan alat, kemudian yang lengkap setelah perdaraha berhenti untuk membantu menegukan sebab perdarahan.
Menghentikan perdarahan secara aktiv, seperti pemasangan tampon dan kaustik lebih baik dari pada memberikan obat-obatan hemostatik sambil menunggu epistaksis berhenti.
Pasien diminta duduk tegak (agar tekanan vaskuler berkurang dan mudah membatukan darah di faring). Bila dalam keadaan lemah atau syok, pasien dibaringkan dengan bantal di belakang punggung. Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat hisap agar hidung bersih dari bekuan darah. Kemudian, pasang tampon anterior yang telah dibasahi dengan adrenalin dan lido kain atau panto kain untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa nyeri untuk tindakan selanjutnya. Biarkan 3-5 menit dan tentukan apakah sumber perdarahan di bagian anterior atau posterior.
Pada anak yang seringmengalami epistaksis ringan, perdarahan dihentikan dengan cara menekan kedua cuping hidung kearah septum selama beberpa menit.
E. PERDARAHAN ANTERIOR
Jika terlihat, sumber perdarahan di kaustik dengan larutan nitras argenti 20-30% ( atau asam triklorasetat 10% ) atau elektrokauter. Sebelumnya diberikan analgesic topical. Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka diperlukan pemasangan b anterior, yaitub kapas atau yang kasa menyer upai pita dengan lebar kurang lebih ½ cm, yang diberikan vaselin atau saleb antibiotic agar tidakmelekat sehingga terjadi perdarahan ulang saat pencabutan. Tampon anterior dimasukan melalui nares anterior diletakan berlapis mulia dari dasar sampai puncak rongga hidung, dan harus menekan tempat asal perdarahan. Tampon dipertahankan 1-2 hari.
Jika tidak ada penyakit yang mendasarinya, pasien diperbolehkan rawat jalan, dan diminta lebih banyak duduk serta mengangkat kepalanya sedikit pada malam hari. Pasien lanjut usia harus dirawat.
F. PERDARAHAN POSTERIOR
Terjadi bila sebagian besar darah yang keluar masuk ke dalam varing, tampon anterior tidak dapat menghentikan perdarahan, dan pada pemeriksaan hidung tamak perdarahan di posterior superior.
Perdarahan posterior lebih sukar diatasi karena perdarahan biasanya hebat dan sukar melihat bagian posterior dari kavum nasi. Dilakukan pemasangan tampon posterior (tampon bellocq), aitu tampon yang mempunyai 3 utas benang, 1 utas ditiap ujung dan 1 utas ditengah. Tampon harus dapat menutup koana (nares posterior). Tampon dibuat dari kasa padat berbentuk bulat atau kubus dengan diameter kurang lebih 3cm.
Untuk memasang tompon bellocq, kateter karet dimasukan salah satu nares anterior sampai tampak di orovaring dan ditarik keluar melalui mulut. Ujng kateter diikat pada salah satu benang yang ada pada salah satu ujng tampon, keudian kateter ditarik melalui hidung sampai benang keluar dari nares anterior. Denga cara yang sama benang yang lain dikeluarkan meelalui lubang hidung sebelahnya. Benang yang keluar kemudian ditarik dan dengan bantuan jari telunjuk tampon tersebut didorong kea rah nasovaring. Agar tidak bergerak, kedua benang yang keluar, dari nares anterior kemudian diikat pada sebuah gulungan kasa didepan lubang hidung. Ujng benang yang keluar dari mulut, dilekatkan pada pipi. Benang tersebut berguna bila hendak mengeluarkan tampon. Jika dianggap perlu dapat pulu dipasang tampon anterior .
Pasien dengan tampon posterior harus dirawat dan tampon dikeluarkan dalam waktu 2-3 hari setelah pemasangan. Dapat diberikan analgesic atau sedaltif yang tidak menyebabkan depresi pernapasan. Bila cara diatas dilakukan dengan baik, maka sebagian besar epistaksis dapat ditanggulangi.
Sebagia pengganti tampon posterior, dapat pula dipakai kateter Foley dengan balon. Selain itu dapat pula dipakai oabat-obatan hemostati seperti vitamin K atau karbazokrom.
Padda epistaksis berat dan berulang yang tak dapat datasi dengan pemasangan tampon, diperlukan ligasi arteri atmoidalis anterior dan posterior atau arteri maksila intena. Untuk ini pasien harus dirujuk ke rumah sakit.
Epistaksis akibat frakturnasi atau septumnasi biasanya berlangsung singkat dan berhenti secara spontan. Kadang-kadang timbul kembali beberapa jam atau beberapa hari kemudian setelah edema berkurang . sebaiknya pasien dirujuk untuk menjalani perawatan frakturnasi dan ligasi bila diperlukan.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menilai secara keadaan umum dan mencari etiologi, dilakukan pemeriksaan darah tepi, fungsi hemostatis, uji faal hati dan ginjal. Dilakukan pula pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring, setelah keadaan akut diatasi.
H.KOMPLIKASI
Dapat terjadi langsung akibat epistaksis sendiri atau akibat usaha penanggulangannya.
Akibat perdarahan hebat
1. syok dan anemia
2. tekanan darah yang turun mendadak dapat menimbulkan iskemia otak, insufisiensi koroner dan infark miokard,dan akhirnya kematian. Harus segera dilakukan pemberian infuse atau tranfusi dara.
Akibat pemasangan tampon
1. pemasangan tampon dapat menimbulkan sinusitis,otitis media, bahkan septicemia. Oleh karena itu pada setip pemasangan tampon harus selalu diberikan anti biotic dan setelah 2-3 harus dicabut meski akan dipasang tampon baru bila masih berdarah.
2. Sebagai akibat mengalirnya darah secara retrograde melalui tuba Eustachius, dapat terjadi hemotimpanumdan air mata yang berdarah.
3. Pada waktu pemasangan tampon bellocq dapat terjadi laserasi palatum mole dan sudut bibir Karena benang terlalu kencang dilekatkan.
I.PROGNOSIS
Sembilan puluh persen kasus epistaksis dapat berhenti sediri.pada pasien hipertensi dengan atau tanpa arteriosklerosis, biasanya perdarahan hebat, sering kambuh, dan prognosisnya buruk.
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Epistaksis atau yang sering dikenal di masyarakat dengan kata mimisan, merupakan perdarahan hidung. Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala suatu kelainan.
Epistaksis sering ditemukan pada anak-anak , hal ini dapat terjadi akibat trauma, infeksi hidung dan sinus paranasal, tumor, benda asing dan rinolit, idiopatik, penyakit kardiovaskular, kelainan darah, infeksi sistemik, gangguan endrokin, kelainan congenital.
Epistaksis juga dapat menyebabkan komplikasi, baik akibat epistaksis sendiri maupun akibat penanggulangan
TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa lebih memahami apa itu epistaksis atau dalam bahasa awamnya, disebut mimsan.
Untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti mata kuliah interna.
KESIMPULAN
Epistaksis merupakan perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab local atau sebab umum.
Epistaksis sering terjadi pada anak-anak, dan Sembilan puluh persen kasus epistaksis dapat berhenti sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer,kuspuji triyanti,rakhim savitri, wahyu ika wardhani wiwiek setiowulan.2001. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. jilid 1edisi ketiga.Jakarta: Balai penerbit Media Aesculapius Fak kedokteran UI, 2001.
Epistaksis adalah pendarahan pada hidung yang dapat terjadi akibat sebab local atausebab umum (kelainan sistemik).Epistaksis bukan suatu penyakit,melainkan gejalahsuatu kelainan.
B.ETIOLOGI
Penyebab local
• Trauma, misalnya mengorek hidung, terjatuh, terpukul, benda asing dihidung, trauma sis pembedahan, atau iritasi yang merangsang.
• Infeksi hidung dan sinus paranasal, seperti rinitis, sinusitis; serta granuloma spesifik, seperti lepra dan sifilis.
• Tumon, baik jinak mupun ganas pada hidung, sinus paranasal,dan nasofaring.
• Pengaru lingkungan, misalnya perubahan tekanan atmosfir mendadak seperti pada penerbang dan penyelam (penyakit caisson), atau lingkungan yang udaranya sangat dingin.
• Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan epistaksis ringan disertai ingus berbau busuk.
• Idiopatik, biasanya merupakan epistaksis yang ringan dan berulang pada anak dan remaja.
Penyebab sistemik:
• Penyakit kardiovaskuler,seperti hipertensi dan kelainan pembuluh darah.
• Kelainan darah, seperti trombositopenia, hemophilia, dan leukemia.
• Infeksi sistemik, seperti demam berdarah dengue, influenza, morbili, atau demam tifoid.
• Gangguan endoktrin, seperti pada kehamilan, menars, dan menopause.
• Kelainan congenital, seperti penyakait Osler (hereditary hemorrhagic telangiectasia).
C.PATOFISIOLOGI
Terdapat dua sumber perdarahan yaitu bagian anterior dan posterior.
Pada epistaksis anterior, perdarahan berasal dari pleksus Kiesselbach (yang paling banyak terjadi dan sering terjadi pada anak-anak), atau dari arteri etmoidalis anterior.Biasanya perdarahan tidak begitu hebat dan bila pasien duduk darah akan keluar melalui lubang hidung. Sering kali dapat berhenti spontan dan mudah diatasi.
Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada pasien usia lanjut yang menderita hipertensi,arterosklerosis, atau penyakit kadiovaskuler. Perdarahan biasanya hebat dan Jarang berhenti spontan.
D. PENATALAKSANAAN
Tiga prinsip utama penanggulangan epistaksis:
• menghentikan pendarahan
• mencegah komplikasi
• mencegah berulangnya epistaksis
Alat-alat yang digunakan: lampu kepala, speculum hidung, alat hisap, forsep bayonet, spatel lidah,kateter karet, pililit kapas(cotton applicator), lampu spiritus, kapas,tampon posterior(tampon bellocq), kaselin, saleb anti biotic, larutan kantokain 2% atau semprotan silokain untuk anestasilokal, larutan adrenalin 1/10.000, larutan nitras argen 20-30%, larutan triklorasetat 10%, atau elektro kauter.
Pertama-tama, keadaan umum dan tanda vital harus diperiksa. anamnes is singkat sambil meper siapkan alat, kemudian yang lengkap setelah perdaraha berhenti untuk membantu menegukan sebab perdarahan.
Menghentikan perdarahan secara aktiv, seperti pemasangan tampon dan kaustik lebih baik dari pada memberikan obat-obatan hemostatik sambil menunggu epistaksis berhenti.
Pasien diminta duduk tegak (agar tekanan vaskuler berkurang dan mudah membatukan darah di faring). Bila dalam keadaan lemah atau syok, pasien dibaringkan dengan bantal di belakang punggung. Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat hisap agar hidung bersih dari bekuan darah. Kemudian, pasang tampon anterior yang telah dibasahi dengan adrenalin dan lido kain atau panto kain untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa nyeri untuk tindakan selanjutnya. Biarkan 3-5 menit dan tentukan apakah sumber perdarahan di bagian anterior atau posterior.
Pada anak yang seringmengalami epistaksis ringan, perdarahan dihentikan dengan cara menekan kedua cuping hidung kearah septum selama beberpa menit.
E. PERDARAHAN ANTERIOR
Jika terlihat, sumber perdarahan di kaustik dengan larutan nitras argenti 20-30% ( atau asam triklorasetat 10% ) atau elektrokauter. Sebelumnya diberikan analgesic topical. Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka diperlukan pemasangan b anterior, yaitub kapas atau yang kasa menyer upai pita dengan lebar kurang lebih ½ cm, yang diberikan vaselin atau saleb antibiotic agar tidakmelekat sehingga terjadi perdarahan ulang saat pencabutan. Tampon anterior dimasukan melalui nares anterior diletakan berlapis mulia dari dasar sampai puncak rongga hidung, dan harus menekan tempat asal perdarahan. Tampon dipertahankan 1-2 hari.
Jika tidak ada penyakit yang mendasarinya, pasien diperbolehkan rawat jalan, dan diminta lebih banyak duduk serta mengangkat kepalanya sedikit pada malam hari. Pasien lanjut usia harus dirawat.
F. PERDARAHAN POSTERIOR
Terjadi bila sebagian besar darah yang keluar masuk ke dalam varing, tampon anterior tidak dapat menghentikan perdarahan, dan pada pemeriksaan hidung tamak perdarahan di posterior superior.
Perdarahan posterior lebih sukar diatasi karena perdarahan biasanya hebat dan sukar melihat bagian posterior dari kavum nasi. Dilakukan pemasangan tampon posterior (tampon bellocq), aitu tampon yang mempunyai 3 utas benang, 1 utas ditiap ujung dan 1 utas ditengah. Tampon harus dapat menutup koana (nares posterior). Tampon dibuat dari kasa padat berbentuk bulat atau kubus dengan diameter kurang lebih 3cm.
Untuk memasang tompon bellocq, kateter karet dimasukan salah satu nares anterior sampai tampak di orovaring dan ditarik keluar melalui mulut. Ujng kateter diikat pada salah satu benang yang ada pada salah satu ujng tampon, keudian kateter ditarik melalui hidung sampai benang keluar dari nares anterior. Denga cara yang sama benang yang lain dikeluarkan meelalui lubang hidung sebelahnya. Benang yang keluar kemudian ditarik dan dengan bantuan jari telunjuk tampon tersebut didorong kea rah nasovaring. Agar tidak bergerak, kedua benang yang keluar, dari nares anterior kemudian diikat pada sebuah gulungan kasa didepan lubang hidung. Ujng benang yang keluar dari mulut, dilekatkan pada pipi. Benang tersebut berguna bila hendak mengeluarkan tampon. Jika dianggap perlu dapat pulu dipasang tampon anterior .
Pasien dengan tampon posterior harus dirawat dan tampon dikeluarkan dalam waktu 2-3 hari setelah pemasangan. Dapat diberikan analgesic atau sedaltif yang tidak menyebabkan depresi pernapasan. Bila cara diatas dilakukan dengan baik, maka sebagian besar epistaksis dapat ditanggulangi.
Sebagia pengganti tampon posterior, dapat pula dipakai kateter Foley dengan balon. Selain itu dapat pula dipakai oabat-obatan hemostati seperti vitamin K atau karbazokrom.
Padda epistaksis berat dan berulang yang tak dapat datasi dengan pemasangan tampon, diperlukan ligasi arteri atmoidalis anterior dan posterior atau arteri maksila intena. Untuk ini pasien harus dirujuk ke rumah sakit.
Epistaksis akibat frakturnasi atau septumnasi biasanya berlangsung singkat dan berhenti secara spontan. Kadang-kadang timbul kembali beberapa jam atau beberapa hari kemudian setelah edema berkurang . sebaiknya pasien dirujuk untuk menjalani perawatan frakturnasi dan ligasi bila diperlukan.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menilai secara keadaan umum dan mencari etiologi, dilakukan pemeriksaan darah tepi, fungsi hemostatis, uji faal hati dan ginjal. Dilakukan pula pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring, setelah keadaan akut diatasi.
H.KOMPLIKASI
Dapat terjadi langsung akibat epistaksis sendiri atau akibat usaha penanggulangannya.
Akibat perdarahan hebat
1. syok dan anemia
2. tekanan darah yang turun mendadak dapat menimbulkan iskemia otak, insufisiensi koroner dan infark miokard,dan akhirnya kematian. Harus segera dilakukan pemberian infuse atau tranfusi dara.
Akibat pemasangan tampon
1. pemasangan tampon dapat menimbulkan sinusitis,otitis media, bahkan septicemia. Oleh karena itu pada setip pemasangan tampon harus selalu diberikan anti biotic dan setelah 2-3 harus dicabut meski akan dipasang tampon baru bila masih berdarah.
2. Sebagai akibat mengalirnya darah secara retrograde melalui tuba Eustachius, dapat terjadi hemotimpanumdan air mata yang berdarah.
3. Pada waktu pemasangan tampon bellocq dapat terjadi laserasi palatum mole dan sudut bibir Karena benang terlalu kencang dilekatkan.
I.PROGNOSIS
Sembilan puluh persen kasus epistaksis dapat berhenti sediri.pada pasien hipertensi dengan atau tanpa arteriosklerosis, biasanya perdarahan hebat, sering kambuh, dan prognosisnya buruk.
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Epistaksis atau yang sering dikenal di masyarakat dengan kata mimisan, merupakan perdarahan hidung. Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala suatu kelainan.
Epistaksis sering ditemukan pada anak-anak , hal ini dapat terjadi akibat trauma, infeksi hidung dan sinus paranasal, tumor, benda asing dan rinolit, idiopatik, penyakit kardiovaskular, kelainan darah, infeksi sistemik, gangguan endrokin, kelainan congenital.
Epistaksis juga dapat menyebabkan komplikasi, baik akibat epistaksis sendiri maupun akibat penanggulangan
TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa lebih memahami apa itu epistaksis atau dalam bahasa awamnya, disebut mimsan.
Untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti mata kuliah interna.
KESIMPULAN
Epistaksis merupakan perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab local atau sebab umum.
Epistaksis sering terjadi pada anak-anak, dan Sembilan puluh persen kasus epistaksis dapat berhenti sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer,kuspuji triyanti,rakhim savitri, wahyu ika wardhani wiwiek setiowulan.2001. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. jilid 1edisi ketiga.Jakarta: Balai penerbit Media Aesculapius Fak kedokteran UI, 2001.
Prinsip-Prinsip Komunikasi
PENJELASAN PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI
(Deddy Mulyana, Ph.D)
Prinsip 1: Komunikasi adalah suatu proses simbolik.
Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkular dan tidak berakhir pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan.
Prinsip 2: Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi.
Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.
Prinsip 3: Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan.
Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari dimensi isi tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimesi isi yang berbeda.
Prinsip 4: Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan.
Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja (pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap tujuannya tercapai).
Prinsip 5: Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu.
Pesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak komunikan baik secara verbal maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan kapan komunikasi itu berlangsung.
Prinsip 6: Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi.
Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi.
Prinsip 7: Komunikasi itu bersifat sistemik.
Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi.
Prinsip 8: Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi.
Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan.
Prinsip 9: Komunikasi bersifat nonsekuensial.
Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung satu arah. Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima dan dimengerti.
Prinsip 10: Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional.
Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling memberi dan menerima informasi diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi.
Prinsip 11: komunikasi bersifat ireversibel.
Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh pesan yang dikirimkan. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang sudah berkata menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan hilang begitu saja pada diri orang lain tersebut.
Prinsip 12: Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.
Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Sumber:
Zubair, A. 2006. Prinsip-prinsip komunikasi. Web, http://meiliemma.wordpress. com/ 2006/10/17/prinsip-prinsip-komunikasi/, 28-10-2010, 12:03 WITA
(Deddy Mulyana, Ph.D)
Prinsip 1: Komunikasi adalah suatu proses simbolik.
Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkular dan tidak berakhir pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan.
Prinsip 2: Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi.
Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.
Prinsip 3: Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan.
Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari dimensi isi tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas berbeda memiliki dimesi isi yang berbeda.
Prinsip 4: Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan.
Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja (pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap tujuannya tercapai).
Prinsip 5: Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu.
Pesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak komunikan baik secara verbal maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan kapan komunikasi itu berlangsung.
Prinsip 6: Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi.
Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan komunikasi di luar norma yang berlaku di masyarakat. Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa pihak penerima akan membalas dengan senyuman, jika kita menyapa seseorang maka orang tersebut akan membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses komunikasi.
Prinsip 7: Komunikasi itu bersifat sistemik.
Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal tersebut. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi.
Prinsip 8: Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi.
Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan. Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan.
Prinsip 9: Komunikasi bersifat nonsekuensial.
Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung satu arah. Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima dan dimengerti.
Prinsip 10: Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional.
Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling memberi dan menerima informasi diantara pihak-pihak yang melakukan komunikasi.
Prinsip 11: komunikasi bersifat ireversibel.
Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh pesan yang dikirimkan. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang sudah berkata menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan hilang begitu saja pada diri orang lain tersebut.
Prinsip 12: Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.
Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.
Sumber:
Zubair, A. 2006. Prinsip-prinsip komunikasi. Web, http://meiliemma.wordpress. com/ 2006/10/17/prinsip-prinsip-komunikasi/, 28-10-2010, 12:03 WITA
Infeksi Saluran Kemih (ISK)
PENDAHULUAN
Insiden infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering ditemukan dipraktik umum, walaupun bermacam-macam antibiotika sudah tersedia luas di pasaran. Data penelitian epidemiologi klinik melaporkan hampir 25-35 % semua perempuan dewasa pernah mengalami ISK selama hidupnya.
Infeksi saluran kemih (ISK) tipe sederhana (uncomplicated type) jarang dilaporkan menyebabkan insufisiensi ginjal kornik (IGK) walaupun sering mangalami ISK berulang. Sebaliknya kelompok pasien ISK berkomplikasi (complicated type) terutama terkait refluks vesikoureter sejak lahir sering menyebabkan insufisiensi ginjal kronik (IGK) yang berakhir dengan gagal ginjal terminal (GGT).
Infeksi organ urogenitalia sering kali dijumpai pada praktek dokter sehari-hari mulai infeksi ringan yang baru diketahui pada saat pemeriksaan urin maupun infeksi berat yang dapat mengancam jiwa. Pada dasarnya infeksi ini dimulai dari infeksi pada saluran kemih (ISK) yang kemudian menjalar ke organ-organ genitalia bahkan sampai ke ginjal. ISK itu sendiri merupakan reaksi inflamasi sel-sel urotelium melapisi saluran kemih.
Infeksi akut pada organ padat (testis, epididimis, prostat, dan ginjal) biasanya lebih berat daripada yang mengenai organ berongga (buli-buli ureter, atau uretra); hal itu ditunjukkan dengan keluhan nyeri atau keadaan klinis yang lebih berat.
Cara penanggulangannyapun kadang-kadang cukup dengan pemberian antibiotika yang sederhana, atau bahkan tidak perlu diberi antibiotika. Namun pada infeksi yang berat dan sudah menimbulkan kerusakan pada berbagai macam organ, membutuhkan terapi suportif dan antibiotika yang kuat. Tujuan terapi pada infeksi organ urogenitalia adalah mencegah atau menghentikan diseminasi kuman dan produk yang dihasilak oleh kuman pada sirkulasi sistemik dan mencegah terjadinya kerusakan organ urogenitalia.
BAB II
A. KONSEP MEDIS
Definisi
Infeksi saluran kemih adalah keadaan bertumbuh dan berkembangbiaknya kuman di dalam saluran kemih dengan jumlah yang bermakna.
Etiologi
Terjadinya infeksi saluran kemih karena adanya gangguan keseimbangan antara mikroorganisme penyebab infeksi atau uropatogen sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host.
Faktor dari host
Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. pertahanan lokal dari host
• mekanisme pengosongan urin yang teratur dari buli-buli dan gerakan peristaltik ureter
• derajat keasaman atau pH urin yang rendah
• adanya ureum dalam urin
• osmolalitas urin yang cukup tinggi
• estrogen pada wanita usia peroduktif
• panjang uretra pada pria
• adanya zat antibakteri pada kelenjar prostat yang terdiri dari unsur Zn
• uromukoid (protein Tamm-Horsfall) yang menghambat penempelan bakteri pada urotelium
Kuman E Coli yang menyebabkan ISK mudah berbiak dalam urin, di sisi lain urin bersifat bakterisidal terhadap hampir sebagian besar kuman dan spesies E Coli. Derajat keasaman urin, osmolalitas, kandungan urea dan asam organik, serta protein-protein yang ada dalam urin bersifat bakterisidal.
Protein di dalam urin (uromukoid) disintesis di sel epitel tubuli pars Ascendens Loop of Henle dan epitel tubulus distalis. Setelah dosekresikan di dalam urin, uromukoid ini mengikat fimbria bakteri tipe I dan S sehingga mencegah bakteri menempel pada urotelium sayangnya protein ini tidak dapat berikatan dengan pili P sehingga bakteri yang mempunyai jenis ini mampu menempel pada urotelium. Pada usia lanjut, produksi uromukoid menurun sehingga mudah sekali terjangkit ISK.
Pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash out urin, yaitu aliran urin yang mampu membersihakan kuman-kuman yang ada dalam urin. Gangguan dari mekanisme itu menyebabkan kuman mudah sekali mengadakan replikasi dan menempel pada urotelium.
2. peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas imunitas humoral maupan imunitas seluler
Faktor dari Mikroorganisme
Bakteri diperlengksapi dengan pili atau fimbria yang terdapat di permukaannya. Pili berfungsi untuk menempel pada urotelium melaliu reseptor yang ada di permukaan urotelium. Ditinjau dari jenis pilinya terdapat dua jebnis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu bakteri tipe pili 1 (yang banya menimbulkan infeksai pada sistitis) dan tipe pili P (yang sering menimbulkan infeksi berat pielonefritis akut).
Beberapa bakteri mempunyai sifat dapat membentuk antigen, menghasilkan toksin (hemolisis) , dan menghasilkan enzim urease yang dapat merubah suasana urin menjadi basa.
Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang berhubungan dengan UTI berfariasi. Separuh dari pasien ditemukan memiliki bakteri dalam urin (bakteriuria) tidak menunjukkan gejala. Tanda dan gejala UTI bagian bawah (sistitis) mencakup nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih, kadang-kadang spasme pada area kandung kemih dan suprapubis. Hematuri dan nyeri punggung dapat terjadi. Tanda dan gejala UTI bagian atas (pielonefritis) mencakup demam, menggigil, nyeri panggul, dan nyeri ketika berkemih. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya nyeri tekan di area sudut kosto vertebral (CVA).
Jika kerusakan ginjal luas terjadi, manifestasi gagal ginjal dapat muncul dan mencakup mual, muntah, pruritus, kehilangan berat badan, edema, kelemahan, napas yang pendek.
Insiden
Infeksi saluran kemih dapat menyerang pasien dengan segala usia dan mulia bayi baru lahir hingga orang tua. Pada umumnya wanita lebih sering mengalami ISK daripada pria; hal ini karena uretra wanita lebih pendek daripada pria. Namun pada masa neonatus ISK lebih banyak terdapat pada bayi laki-laki (2,7%) mengalami sirkumsisi daripada bayi permepuan (0,7%).
Diagnosis
Gambaran klinis ISK sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga menunjukkan gejala yang sangat berat. Pada umumnya infeksi akut yang mengenai organ padat (ginjal, prostat, epididimis, dan testis) memberikan keluhan yang hebat sedangkan infeksi pada organ-organ yang berongga (buli-buli, ureter, pielum) memberikan keluhan yang lebih ringan.
Klasifikasi
ISK (Infeksi Saluran Kemih) bawah; presentasi klinis ISK bawah tergantung dari gender :
perempuan
sistitis. Adalah presentasi klinis infeksai kandung kemih disertai bakteriuria bermakna.
Sindrom uretra akut (SUA). Adalah presentasi kilnis sistitis tanpa ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinakan sistitis bakterialis. Penelitian terkini SUA disebabkan mikroorganisme anaeriobik.
Laki-laki
Presentasi klinis ISK bawah pada laki-laki mungkin sistitis, prostetitis, epididimis, dan uretritis.
ISK (Infeksi Saluran Kemih)atas
Pielonefritia akut (PNA). Adalah proses inflamasi pada parenkim ginjlay na gdisebabkna infeksi bakteri
Pielonefritis kronik (PNK) mungkin akibat lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan reflkus vesiko ureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti pembentukan jaringan ikat parenkim yang ditandai pielonefritis kronik yang spesifik
Pemeriksaan Urin
Meliputi pemeriksaan urinalisis dan pemeriksaan kultur urin. Sel-sel darah putih (leukosit) dapat diperiksa dengan dipstic maupun secara mikroskopik. Urin dikatakan mengandung leukosit atau piuria jika secara mikroskopik didapatkan >10 leukosit/mm3 atau terdapat >5 leukosit/lapangan pandang besar. Pemeriksaan kultur urin dimaksudkan untk menentukan keberadaan kuman, jensi kuman, dan sekaligus menentukan jenis antibiotik yang cocok untuk membunuh kuman itu.
Contoh urin dapat diambil dengan cara :
1. Aspirasi suprapubik yang sering dilakukan pada bayi
2. Kateterisasi peruretram pada wanita untuk menghindari kontaminasi oleh kuman-kuman di sekitar intrioitus vagina
3. Miksi dengan pengambilan urin porsi tengah atau midstream urin
Dikatakan bakteri uria jika didapatkan lebih dari 105 cfu (koloni forming unit /ml pada pengambilan contoh uron porsi tengah sedangkan pada pengsambilan contoh urin melalui aspirasi suprapubik jika didaptkan >103 cfu/ml.
Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk mwengungkapkan adanya porses inflamasi atau infeksi. Didapatkannya leukositosis, pengingkatan laj uendap darah, atau didapatkannya sel-sel muda pada sediaan hapusan darah menendakan adanya proses inflamasi akut.
Pencitraan
ISK complicated perlu dilakukan pemeriksaan dan pencitraan untuk mencari penyebab atau sumber tejadinya infeksi.
Foto polos abdomen. Pembuatan foto polos berguna untuk mengetahui adanya batu radio-opak pada saluran kemih atau adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akut. Adanya kekaburan atau hilangnya bayangan garis psoas dan kelianan dari bayangan bentuk ginjal merupakan petunjuk adanya abses perirenal atau abses ginjal.
PIV adalah pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang menderita ISK complicated. Pemeriksaan ini dapat mengungkapkan adanya pielonefritis akut dan adanya obstruksi saluran kemih; tetapi pemeriksaan ini sulit untuk mendeteksi adanya hidonefrosis, pinefrosis, ataupun abses ginjal padas ginjal yang fungsinya sangat jelek.
Voiding sistouretrografi pemeriksaan ini diperlukan untuk mengungkapkan adanya refluks vesiko-ureter, buli-buli neurogenik, atau divertikulum uretra pada wanita yang sering menyebabkan infeksi yang sering kambuh.
Ultrasonographi. Adalah pemeriksaan untuk mengungkapkan adanya hidronefrosis, pionefrosis, ataupun abses pada perirenal terutama pada pasien gagal ginjal.
CT Scan. Pemeriksaan ini lebih sensitif dalam mendeteksi penyebab ISK daripada PIV atau ultrasonograpi, tetapi biaya yang diperlukan relatif lebih mahal.
Penatalaksanaan
Penanganan UTI yang ideal adalah agens antibakterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina, dengan demikian akan memperkecil insidens infeksi ragi vagina. Selain itu agens antibakterial harus murah dan menyebabkan sedikit efek samping serta rendah resisten. Karena organisme pada infeksi traktus urinariun noncomplikasi pada wanita adalah Escerichia coli atau flora fekal lain, maka agens yang diberikan harus efektif melawan organisme ini.
Variasi program penganganan telah berhasil menangani infeksi traktus urinarius bawah nonkomplikasi pada wanita; dari pemberian dosis tunggal, program medikasi short course (3-4 hari) atau long course (7-10 hari).
Penggunaan medikasi yang umum mencakup sulfisoxsazole. Sulfamethoxsazole dan nitrofurantoin. Kadang-kadang medikasi seperti ampicilin atau amoxixilin digunakan tetapi E. Coli telah resisten terhadap agen ini. Pada wanita hamil, cephalexin adalah agens antimikrobial pilihan, meskipun ampicilin juga dapat digunakan.
B. Konsep Keperawatan
Pengkajian
Riwayat tanda dan gejala urinarius didapatkan dari pasien yang diduga mengalami infeksi traktus urinarius. Adanya nyeri, sering berkemih, urgensi, dan hesitancy serta perubahan dalam urin dikaji, didokumentasikan dan dilaporkan. Pola berkemih pasien dikaji untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK. Pengosongan kandung kemih tidak teratur, hubungan antara gejala ISK dengan hubungan seksual, praktek kontrasepsi dan higiene personal dikaji. Pengetahuan pasien tentang resep medikasi antimikroba dan tindakan pencegahan juga dikaji. Selain itu, urin pasien dikaji dalam hal volume, warna, konsentrasi, keabu-abuan dan bau yang semuanya itu akan berubah dengan adanya bakteri dalam traktus urinarius.
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain.
2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan sering berkemih, urgensi, dan hesitancy
3. Kurang pengetahuan tentang faktor predisposisi infeksi dan kekambuhan, deteksi dan pencegahan kekambuhan dan terapi farmakologi.
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan perubahan suhu tubuh
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
6. Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan evaporasi
Perencanaan dan Implementasi
Tujuan utama dapat mencakup pengurangan nyeri dan ketidaknyamanan; pengurangan sering berkemih, urgensi dan hesitancy; peningkatan pengetahuan tentang tindakan pencegahan dan modalitas penanganan; tidak adanya komplikasi potensial.
Intervensi Keperawatan
1. Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan
Nyeri dan ketidaknyamanan yang berkaitan dengan infeksi traktus urinarius dapat dikurangi secara cepat ketika terapi antimikrobial dimulai. Agen antispasmodik membantu dalam mengurangi iritabilitas kandung kemih dan nyeri. Aspirin, pemanasan perineum, dan mandi rendam panas membantu mengurangi ketidaknyamanan dan spasme.
2. Mengurangi frekuensi berkemih, urgensi, dan hesitancy
Pasien didorong untuk minum dengan bebas sejumlah cairan (air adalah pilihan terbaik) untuk mendukung aliran darah renal dan untuk membilas bakteri dari traktus urinarius. Cairan yang dapat mengirirtasi kandung kemih (misalnya kopi, teh, cola, alcohol) dihindari. Sering berkemih (setiap 2-3 jam) dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemih, karena hal ini secara signifikan menurunkan jumlah bakteri dalam urin, mengurangi stasis urin dan mencegah kekambuhan infeksi.
3. Kurang pengetahuan tentang faktor predisposisi infeksi dan kekambuhan, deteksi dan pencegahan kekambuhan dan terapi farmakologi.
Wanita yang mengalami kekambuhan infeksi traktus urinarius harus menerima rincian instruksi seperti berikut :
a) Mengurangi konsentrasi patogen pada orifisium vagina melalui tindakan higiene.
• Sering mandi pancuran daripada mandi rendam, karena bakteri dalam air bak dapat masuk ke uretra.
• Bersihkan sekeliling perineum dan meatus uretra setiap setelah defekasi (dengan gerakan dari depan ke belakang)
b) Minum dengan bebas sejumlah cairan dalam sehari untuk membilas keluar bakteri, hindari kopi, teh, cola, dan alcohol.
c) Berkemih setiap dua sampai tiga jam dalam sehari dan kosongkan kandung kemih dengan sempurna. Hal ini mencegah distensi kandung kemih yang berlebihan dan gangguan terhadap suplai kedinding kandung kemih yang merupakan predisposisi ISK.
d) Jika hubungan seksual merupakan kejadian ingá mengawali berkembangnya bakteriuria:
• Segera berkemih setelah melakukan hubungan seksual
• Minum agen antimikrobial oral dosis tunggal setelah hubungan seksual
e) Jika bakteri tetap muncul dalam urin, terapi antimikrobial jangka panjang diperlukan untuk mencegah kolonisasi area periuretra dan kekambuhan infeksi. Medikasi harus diminum setelah pengosongan kandung kemih segera sebelum tidur untuk memastikan keadekuatan konsentrasi medikasi selama periode malam hari
f) Jika diresepkan, pantau dan lakukan tes urin dip-slide (mikrostix) terhadap adanya bakteri seperti berikut:
• Cuci sekeliling meatus uretra beberapa kali, menggunakan waslap yang berbeda-beda
• Kumpulkan spesimen urin aliran tengah
• Angkat slide dari kontainer, celupkan ke dalam sampel urin, dan kembalikan lagi ke dalam kontainer.
• Simpan slide pada suhu uang ssuai dengan petunjuk produk.
• Baca hasilnya dengan membandingkan slide dengan grafik densitas koloni yang menyertai produk tersebut.
• Awali terapi sesuai resep dan selesaikan medikasi .
• Beritahu tenaga kesehatan jika terjadi demam atau jika tanda-tanda menetap.
g) Konsul ke tenaga kesehatan secara teratur untuk tindak lanjut,
kekambuhan gejala, atau infeksi nonresponsif terhadap penanganan.
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan perubahan suhu tubuh
a) Awasi suhu dan tanda-tanda vital setiap jam
b) Gunakan tindakan-tindakan pendinginan internal dan eksternal yang sesuai seperti mandi dingin atau mattres dingin. Ketika memakai mattres dingin, turunkan suhu secara bertahap untuk mencegah menggigil karena hal tersebut menyebabkan peningkatan kebutuhan O2 .
c) Berikan antipiretik sesuai intruksi
d) Lakukan pengontrolan suhu, menjaga kenyamanan lingkungan
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
a) Mengajarkan intervensi dini dalam pengalaman rasa nyeri
b) Menginstruksikan penggunaan bantal penghangat yang aman; gunakan penghangat yang lembab atau termoprone. Penghangat yang lembab membantu untuk menurunkan rasa nyeri dan meningkatkan rasa nyaman atau istirahat
c) Tingkatkan relaksasi pada waktu tidur; pilih tindakan yang disetujui pasien misalnya mengajarkan teknik relaksasi otot.
6. Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan evaporasi
a) Awasi tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai keadaan stabil.
b) Awasi asupan dan haluaran setiap jam dan timbang berat badan setiap hari karena hal ini merupakan pengukuran yang baik terhadap keseimbangan cairan tubuh.
c) Teruskan untuk mengawasi dan melaporkan tanda-tanda dan gejala-gejala tentang memburuknya keseimbangan elektrolit atau kurangnya volume cairan seperti mengentalnya urin mengingkatnya haluaran urin, hipotensi, peningkatan nadi, penurunan tuberkulin, dan kelemahan.
Pemantauan dan Penatalaksanaan Komplikasi. Pengenalan UTI secara dini dan penanganan yag tepat sangat penting untuk mencegah kekambuhan infeksi dan kemungkinan komplikasi seperti gagal ginjal dan sepsis. Tujuan penanganan adalah untuk mencegah infeksi agar tidak berkembang dan menyebabkan kerusakan renal permanen dan gagal ginjal. Terapi antimikrobial yang tepat, minum cairan dalam jumlah bebas, sering berkemih, dan tindakan higiene biasanya dianjurkan dalam rangka penatalaksanaan UTI. Pasien diinstruksikan untuk memberitahukan dokter jika terjadi kelemahan, mual, muntah, atau pruritus. Pemantuan fungsi renal secara berkala (klirens kreatinin, BUN, kadar kreatinin serum) dapat dindikasikan pada pasien yang mengalami UTI berulang. Jika kerusakan renal yang luas terjadi, dialisis mungkin diperlukan.
Pasien UTI, terutama yang mengalami infeksi akibat kateterisasi, berisiko tinggi mengalami sepsis oleh bakteri gram-negatif. Kateter indwelling harus dihindari, dan jika perlu diangkat sedini mungkin. Namun demikian, jika kateter indwelling diperlukan, intervensi keperawatan yang spesifik harus dilakukan untuk mencegah infeksi. Hal ini mencakup teknik aseptik yang ketat selama melakukan tindakan insersi menggunakan kateter berukuran kecil jika mungkin; memfiksasi kateter dengan perekat untuk mencegah pergerakan; melakukan inspeksi dengan sering terhadap warna, bau dan konsistensi; dengan cermat lakukan perawatan perineal dengan menggunakan sabun dan air setiap hari; dan pertahankan sistem tertutup ketika mengambil contoh spesimen.
Kaji dengan cermat tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran yang menunjukkan adanya sepsis. Kultur darah positif dan peningkatan hitungsel darah putih dilaporkan pada dokter. Terapi antimikrobial yang tepat dan pemberian cairan dalam jumlah besar diresepkan (terapi antimikrobial dan cairan secara intravena mungkin diperlukan). Pencegahan sepsis merupakan kunci yang signifikan terhadap laju mortalitas pada sepsis gram-negatif, terutama pada pasien lansia.
Evaluasi
Hasil yang diharapkan
• Memperlihatkan berkurangnya rasa nyeri dan ketidaknyamanan,
a) Melaporkan berkurangnya nyeri, urgensi, disuria, atau hesitansi pada saat berkemih.
b) Minum analgesik dan agens antimikrobial sesuai resep.
c) Minum 8-10 gelas air setiap hari.
d) Berkemih setiap 2-3 jam.
e) Urin yang keluar jernih dan tidak berbau.
• Pengetahuan mengenai tindakan pencegahan modalitas penanganan yang diresepkan meningkat.
• Bebas komplikasi
a) Melaporkan tidak adanya gejala infeksi atau gagal ginjal (mual, muntah, kelemahan, pruritus).
b) Kadar BUN dan kreatinin serum normal, kultur darah dan urin negatif.
c) Memperlihatkan tanda-tanda vital dan suhu yang normal; tidak ada tanda sepsis.
d) Mempertahankan keluaran urin yang adekuat (> 30 ml/jam).
• Rasa nyaman
Mempertahankan suhu normal dengan gejala tidak terdapatnya tanda-tanda dan gejala-gejala hipertermia seperti takikardi dan hiperventilasi sehingga dapat meningkatkan rasa nyaman.
• Mengatasi gangguan pola tidur
Klien dapat mengontrol rasa nyeri sehingga dapat tidur dengan nyaman.
• Devisit volume cairan
a) Tekanan darah dan nadi dalam batas normal
b) Turgor kulit dalam batas normal
c) Keseimbangan asupan dan haluaran adekuat
Insiden infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering ditemukan dipraktik umum, walaupun bermacam-macam antibiotika sudah tersedia luas di pasaran. Data penelitian epidemiologi klinik melaporkan hampir 25-35 % semua perempuan dewasa pernah mengalami ISK selama hidupnya.
Infeksi saluran kemih (ISK) tipe sederhana (uncomplicated type) jarang dilaporkan menyebabkan insufisiensi ginjal kornik (IGK) walaupun sering mangalami ISK berulang. Sebaliknya kelompok pasien ISK berkomplikasi (complicated type) terutama terkait refluks vesikoureter sejak lahir sering menyebabkan insufisiensi ginjal kronik (IGK) yang berakhir dengan gagal ginjal terminal (GGT).
Infeksi organ urogenitalia sering kali dijumpai pada praktek dokter sehari-hari mulai infeksi ringan yang baru diketahui pada saat pemeriksaan urin maupun infeksi berat yang dapat mengancam jiwa. Pada dasarnya infeksi ini dimulai dari infeksi pada saluran kemih (ISK) yang kemudian menjalar ke organ-organ genitalia bahkan sampai ke ginjal. ISK itu sendiri merupakan reaksi inflamasi sel-sel urotelium melapisi saluran kemih.
Infeksi akut pada organ padat (testis, epididimis, prostat, dan ginjal) biasanya lebih berat daripada yang mengenai organ berongga (buli-buli ureter, atau uretra); hal itu ditunjukkan dengan keluhan nyeri atau keadaan klinis yang lebih berat.
Cara penanggulangannyapun kadang-kadang cukup dengan pemberian antibiotika yang sederhana, atau bahkan tidak perlu diberi antibiotika. Namun pada infeksi yang berat dan sudah menimbulkan kerusakan pada berbagai macam organ, membutuhkan terapi suportif dan antibiotika yang kuat. Tujuan terapi pada infeksi organ urogenitalia adalah mencegah atau menghentikan diseminasi kuman dan produk yang dihasilak oleh kuman pada sirkulasi sistemik dan mencegah terjadinya kerusakan organ urogenitalia.
BAB II
A. KONSEP MEDIS
Definisi
Infeksi saluran kemih adalah keadaan bertumbuh dan berkembangbiaknya kuman di dalam saluran kemih dengan jumlah yang bermakna.
Etiologi
Terjadinya infeksi saluran kemih karena adanya gangguan keseimbangan antara mikroorganisme penyebab infeksi atau uropatogen sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host.
Faktor dari host
Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. pertahanan lokal dari host
• mekanisme pengosongan urin yang teratur dari buli-buli dan gerakan peristaltik ureter
• derajat keasaman atau pH urin yang rendah
• adanya ureum dalam urin
• osmolalitas urin yang cukup tinggi
• estrogen pada wanita usia peroduktif
• panjang uretra pada pria
• adanya zat antibakteri pada kelenjar prostat yang terdiri dari unsur Zn
• uromukoid (protein Tamm-Horsfall) yang menghambat penempelan bakteri pada urotelium
Kuman E Coli yang menyebabkan ISK mudah berbiak dalam urin, di sisi lain urin bersifat bakterisidal terhadap hampir sebagian besar kuman dan spesies E Coli. Derajat keasaman urin, osmolalitas, kandungan urea dan asam organik, serta protein-protein yang ada dalam urin bersifat bakterisidal.
Protein di dalam urin (uromukoid) disintesis di sel epitel tubuli pars Ascendens Loop of Henle dan epitel tubulus distalis. Setelah dosekresikan di dalam urin, uromukoid ini mengikat fimbria bakteri tipe I dan S sehingga mencegah bakteri menempel pada urotelium sayangnya protein ini tidak dapat berikatan dengan pili P sehingga bakteri yang mempunyai jenis ini mampu menempel pada urotelium. Pada usia lanjut, produksi uromukoid menurun sehingga mudah sekali terjangkit ISK.
Pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme wash out urin, yaitu aliran urin yang mampu membersihakan kuman-kuman yang ada dalam urin. Gangguan dari mekanisme itu menyebabkan kuman mudah sekali mengadakan replikasi dan menempel pada urotelium.
2. peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas imunitas humoral maupan imunitas seluler
Faktor dari Mikroorganisme
Bakteri diperlengksapi dengan pili atau fimbria yang terdapat di permukaannya. Pili berfungsi untuk menempel pada urotelium melaliu reseptor yang ada di permukaan urotelium. Ditinjau dari jenis pilinya terdapat dua jebnis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu bakteri tipe pili 1 (yang banya menimbulkan infeksai pada sistitis) dan tipe pili P (yang sering menimbulkan infeksi berat pielonefritis akut).
Beberapa bakteri mempunyai sifat dapat membentuk antigen, menghasilkan toksin (hemolisis) , dan menghasilkan enzim urease yang dapat merubah suasana urin menjadi basa.
Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang berhubungan dengan UTI berfariasi. Separuh dari pasien ditemukan memiliki bakteri dalam urin (bakteriuria) tidak menunjukkan gejala. Tanda dan gejala UTI bagian bawah (sistitis) mencakup nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih, kadang-kadang spasme pada area kandung kemih dan suprapubis. Hematuri dan nyeri punggung dapat terjadi. Tanda dan gejala UTI bagian atas (pielonefritis) mencakup demam, menggigil, nyeri panggul, dan nyeri ketika berkemih. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya nyeri tekan di area sudut kosto vertebral (CVA).
Jika kerusakan ginjal luas terjadi, manifestasi gagal ginjal dapat muncul dan mencakup mual, muntah, pruritus, kehilangan berat badan, edema, kelemahan, napas yang pendek.
Insiden
Infeksi saluran kemih dapat menyerang pasien dengan segala usia dan mulia bayi baru lahir hingga orang tua. Pada umumnya wanita lebih sering mengalami ISK daripada pria; hal ini karena uretra wanita lebih pendek daripada pria. Namun pada masa neonatus ISK lebih banyak terdapat pada bayi laki-laki (2,7%) mengalami sirkumsisi daripada bayi permepuan (0,7%).
Diagnosis
Gambaran klinis ISK sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga menunjukkan gejala yang sangat berat. Pada umumnya infeksi akut yang mengenai organ padat (ginjal, prostat, epididimis, dan testis) memberikan keluhan yang hebat sedangkan infeksi pada organ-organ yang berongga (buli-buli, ureter, pielum) memberikan keluhan yang lebih ringan.
Klasifikasi
ISK (Infeksi Saluran Kemih) bawah; presentasi klinis ISK bawah tergantung dari gender :
perempuan
sistitis. Adalah presentasi klinis infeksai kandung kemih disertai bakteriuria bermakna.
Sindrom uretra akut (SUA). Adalah presentasi kilnis sistitis tanpa ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinakan sistitis bakterialis. Penelitian terkini SUA disebabkan mikroorganisme anaeriobik.
Laki-laki
Presentasi klinis ISK bawah pada laki-laki mungkin sistitis, prostetitis, epididimis, dan uretritis.
ISK (Infeksi Saluran Kemih)atas
Pielonefritia akut (PNA). Adalah proses inflamasi pada parenkim ginjlay na gdisebabkna infeksi bakteri
Pielonefritis kronik (PNK) mungkin akibat lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan reflkus vesiko ureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti pembentukan jaringan ikat parenkim yang ditandai pielonefritis kronik yang spesifik
Pemeriksaan Urin
Meliputi pemeriksaan urinalisis dan pemeriksaan kultur urin. Sel-sel darah putih (leukosit) dapat diperiksa dengan dipstic maupun secara mikroskopik. Urin dikatakan mengandung leukosit atau piuria jika secara mikroskopik didapatkan >10 leukosit/mm3 atau terdapat >5 leukosit/lapangan pandang besar. Pemeriksaan kultur urin dimaksudkan untk menentukan keberadaan kuman, jensi kuman, dan sekaligus menentukan jenis antibiotik yang cocok untuk membunuh kuman itu.
Contoh urin dapat diambil dengan cara :
1. Aspirasi suprapubik yang sering dilakukan pada bayi
2. Kateterisasi peruretram pada wanita untuk menghindari kontaminasi oleh kuman-kuman di sekitar intrioitus vagina
3. Miksi dengan pengambilan urin porsi tengah atau midstream urin
Dikatakan bakteri uria jika didapatkan lebih dari 105 cfu (koloni forming unit /ml pada pengambilan contoh uron porsi tengah sedangkan pada pengsambilan contoh urin melalui aspirasi suprapubik jika didaptkan >103 cfu/ml.
Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk mwengungkapkan adanya porses inflamasi atau infeksi. Didapatkannya leukositosis, pengingkatan laj uendap darah, atau didapatkannya sel-sel muda pada sediaan hapusan darah menendakan adanya proses inflamasi akut.
Pencitraan
ISK complicated perlu dilakukan pemeriksaan dan pencitraan untuk mencari penyebab atau sumber tejadinya infeksi.
Foto polos abdomen. Pembuatan foto polos berguna untuk mengetahui adanya batu radio-opak pada saluran kemih atau adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akut. Adanya kekaburan atau hilangnya bayangan garis psoas dan kelianan dari bayangan bentuk ginjal merupakan petunjuk adanya abses perirenal atau abses ginjal.
PIV adalah pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang menderita ISK complicated. Pemeriksaan ini dapat mengungkapkan adanya pielonefritis akut dan adanya obstruksi saluran kemih; tetapi pemeriksaan ini sulit untuk mendeteksi adanya hidonefrosis, pinefrosis, ataupun abses ginjal padas ginjal yang fungsinya sangat jelek.
Voiding sistouretrografi pemeriksaan ini diperlukan untuk mengungkapkan adanya refluks vesiko-ureter, buli-buli neurogenik, atau divertikulum uretra pada wanita yang sering menyebabkan infeksi yang sering kambuh.
Ultrasonographi. Adalah pemeriksaan untuk mengungkapkan adanya hidronefrosis, pionefrosis, ataupun abses pada perirenal terutama pada pasien gagal ginjal.
CT Scan. Pemeriksaan ini lebih sensitif dalam mendeteksi penyebab ISK daripada PIV atau ultrasonograpi, tetapi biaya yang diperlukan relatif lebih mahal.
Penatalaksanaan
Penanganan UTI yang ideal adalah agens antibakterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina, dengan demikian akan memperkecil insidens infeksi ragi vagina. Selain itu agens antibakterial harus murah dan menyebabkan sedikit efek samping serta rendah resisten. Karena organisme pada infeksi traktus urinariun noncomplikasi pada wanita adalah Escerichia coli atau flora fekal lain, maka agens yang diberikan harus efektif melawan organisme ini.
Variasi program penganganan telah berhasil menangani infeksi traktus urinarius bawah nonkomplikasi pada wanita; dari pemberian dosis tunggal, program medikasi short course (3-4 hari) atau long course (7-10 hari).
Penggunaan medikasi yang umum mencakup sulfisoxsazole. Sulfamethoxsazole dan nitrofurantoin. Kadang-kadang medikasi seperti ampicilin atau amoxixilin digunakan tetapi E. Coli telah resisten terhadap agen ini. Pada wanita hamil, cephalexin adalah agens antimikrobial pilihan, meskipun ampicilin juga dapat digunakan.
B. Konsep Keperawatan
Pengkajian
Riwayat tanda dan gejala urinarius didapatkan dari pasien yang diduga mengalami infeksi traktus urinarius. Adanya nyeri, sering berkemih, urgensi, dan hesitancy serta perubahan dalam urin dikaji, didokumentasikan dan dilaporkan. Pola berkemih pasien dikaji untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK. Pengosongan kandung kemih tidak teratur, hubungan antara gejala ISK dengan hubungan seksual, praktek kontrasepsi dan higiene personal dikaji. Pengetahuan pasien tentang resep medikasi antimikroba dan tindakan pencegahan juga dikaji. Selain itu, urin pasien dikaji dalam hal volume, warna, konsentrasi, keabu-abuan dan bau yang semuanya itu akan berubah dengan adanya bakteri dalam traktus urinarius.
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain.
2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan sering berkemih, urgensi, dan hesitancy
3. Kurang pengetahuan tentang faktor predisposisi infeksi dan kekambuhan, deteksi dan pencegahan kekambuhan dan terapi farmakologi.
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan perubahan suhu tubuh
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
6. Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan evaporasi
Perencanaan dan Implementasi
Tujuan utama dapat mencakup pengurangan nyeri dan ketidaknyamanan; pengurangan sering berkemih, urgensi dan hesitancy; peningkatan pengetahuan tentang tindakan pencegahan dan modalitas penanganan; tidak adanya komplikasi potensial.
Intervensi Keperawatan
1. Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan
Nyeri dan ketidaknyamanan yang berkaitan dengan infeksi traktus urinarius dapat dikurangi secara cepat ketika terapi antimikrobial dimulai. Agen antispasmodik membantu dalam mengurangi iritabilitas kandung kemih dan nyeri. Aspirin, pemanasan perineum, dan mandi rendam panas membantu mengurangi ketidaknyamanan dan spasme.
2. Mengurangi frekuensi berkemih, urgensi, dan hesitancy
Pasien didorong untuk minum dengan bebas sejumlah cairan (air adalah pilihan terbaik) untuk mendukung aliran darah renal dan untuk membilas bakteri dari traktus urinarius. Cairan yang dapat mengirirtasi kandung kemih (misalnya kopi, teh, cola, alcohol) dihindari. Sering berkemih (setiap 2-3 jam) dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemih, karena hal ini secara signifikan menurunkan jumlah bakteri dalam urin, mengurangi stasis urin dan mencegah kekambuhan infeksi.
3. Kurang pengetahuan tentang faktor predisposisi infeksi dan kekambuhan, deteksi dan pencegahan kekambuhan dan terapi farmakologi.
Wanita yang mengalami kekambuhan infeksi traktus urinarius harus menerima rincian instruksi seperti berikut :
a) Mengurangi konsentrasi patogen pada orifisium vagina melalui tindakan higiene.
• Sering mandi pancuran daripada mandi rendam, karena bakteri dalam air bak dapat masuk ke uretra.
• Bersihkan sekeliling perineum dan meatus uretra setiap setelah defekasi (dengan gerakan dari depan ke belakang)
b) Minum dengan bebas sejumlah cairan dalam sehari untuk membilas keluar bakteri, hindari kopi, teh, cola, dan alcohol.
c) Berkemih setiap dua sampai tiga jam dalam sehari dan kosongkan kandung kemih dengan sempurna. Hal ini mencegah distensi kandung kemih yang berlebihan dan gangguan terhadap suplai kedinding kandung kemih yang merupakan predisposisi ISK.
d) Jika hubungan seksual merupakan kejadian ingá mengawali berkembangnya bakteriuria:
• Segera berkemih setelah melakukan hubungan seksual
• Minum agen antimikrobial oral dosis tunggal setelah hubungan seksual
e) Jika bakteri tetap muncul dalam urin, terapi antimikrobial jangka panjang diperlukan untuk mencegah kolonisasi area periuretra dan kekambuhan infeksi. Medikasi harus diminum setelah pengosongan kandung kemih segera sebelum tidur untuk memastikan keadekuatan konsentrasi medikasi selama periode malam hari
f) Jika diresepkan, pantau dan lakukan tes urin dip-slide (mikrostix) terhadap adanya bakteri seperti berikut:
• Cuci sekeliling meatus uretra beberapa kali, menggunakan waslap yang berbeda-beda
• Kumpulkan spesimen urin aliran tengah
• Angkat slide dari kontainer, celupkan ke dalam sampel urin, dan kembalikan lagi ke dalam kontainer.
• Simpan slide pada suhu uang ssuai dengan petunjuk produk.
• Baca hasilnya dengan membandingkan slide dengan grafik densitas koloni yang menyertai produk tersebut.
• Awali terapi sesuai resep dan selesaikan medikasi .
• Beritahu tenaga kesehatan jika terjadi demam atau jika tanda-tanda menetap.
g) Konsul ke tenaga kesehatan secara teratur untuk tindak lanjut,
kekambuhan gejala, atau infeksi nonresponsif terhadap penanganan.
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan perubahan suhu tubuh
a) Awasi suhu dan tanda-tanda vital setiap jam
b) Gunakan tindakan-tindakan pendinginan internal dan eksternal yang sesuai seperti mandi dingin atau mattres dingin. Ketika memakai mattres dingin, turunkan suhu secara bertahap untuk mencegah menggigil karena hal tersebut menyebabkan peningkatan kebutuhan O2 .
c) Berikan antipiretik sesuai intruksi
d) Lakukan pengontrolan suhu, menjaga kenyamanan lingkungan
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
a) Mengajarkan intervensi dini dalam pengalaman rasa nyeri
b) Menginstruksikan penggunaan bantal penghangat yang aman; gunakan penghangat yang lembab atau termoprone. Penghangat yang lembab membantu untuk menurunkan rasa nyeri dan meningkatkan rasa nyaman atau istirahat
c) Tingkatkan relaksasi pada waktu tidur; pilih tindakan yang disetujui pasien misalnya mengajarkan teknik relaksasi otot.
6. Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan evaporasi
a) Awasi tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai keadaan stabil.
b) Awasi asupan dan haluaran setiap jam dan timbang berat badan setiap hari karena hal ini merupakan pengukuran yang baik terhadap keseimbangan cairan tubuh.
c) Teruskan untuk mengawasi dan melaporkan tanda-tanda dan gejala-gejala tentang memburuknya keseimbangan elektrolit atau kurangnya volume cairan seperti mengentalnya urin mengingkatnya haluaran urin, hipotensi, peningkatan nadi, penurunan tuberkulin, dan kelemahan.
Pemantauan dan Penatalaksanaan Komplikasi. Pengenalan UTI secara dini dan penanganan yag tepat sangat penting untuk mencegah kekambuhan infeksi dan kemungkinan komplikasi seperti gagal ginjal dan sepsis. Tujuan penanganan adalah untuk mencegah infeksi agar tidak berkembang dan menyebabkan kerusakan renal permanen dan gagal ginjal. Terapi antimikrobial yang tepat, minum cairan dalam jumlah bebas, sering berkemih, dan tindakan higiene biasanya dianjurkan dalam rangka penatalaksanaan UTI. Pasien diinstruksikan untuk memberitahukan dokter jika terjadi kelemahan, mual, muntah, atau pruritus. Pemantuan fungsi renal secara berkala (klirens kreatinin, BUN, kadar kreatinin serum) dapat dindikasikan pada pasien yang mengalami UTI berulang. Jika kerusakan renal yang luas terjadi, dialisis mungkin diperlukan.
Pasien UTI, terutama yang mengalami infeksi akibat kateterisasi, berisiko tinggi mengalami sepsis oleh bakteri gram-negatif. Kateter indwelling harus dihindari, dan jika perlu diangkat sedini mungkin. Namun demikian, jika kateter indwelling diperlukan, intervensi keperawatan yang spesifik harus dilakukan untuk mencegah infeksi. Hal ini mencakup teknik aseptik yang ketat selama melakukan tindakan insersi menggunakan kateter berukuran kecil jika mungkin; memfiksasi kateter dengan perekat untuk mencegah pergerakan; melakukan inspeksi dengan sering terhadap warna, bau dan konsistensi; dengan cermat lakukan perawatan perineal dengan menggunakan sabun dan air setiap hari; dan pertahankan sistem tertutup ketika mengambil contoh spesimen.
Kaji dengan cermat tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran yang menunjukkan adanya sepsis. Kultur darah positif dan peningkatan hitungsel darah putih dilaporkan pada dokter. Terapi antimikrobial yang tepat dan pemberian cairan dalam jumlah besar diresepkan (terapi antimikrobial dan cairan secara intravena mungkin diperlukan). Pencegahan sepsis merupakan kunci yang signifikan terhadap laju mortalitas pada sepsis gram-negatif, terutama pada pasien lansia.
Evaluasi
Hasil yang diharapkan
• Memperlihatkan berkurangnya rasa nyeri dan ketidaknyamanan,
a) Melaporkan berkurangnya nyeri, urgensi, disuria, atau hesitansi pada saat berkemih.
b) Minum analgesik dan agens antimikrobial sesuai resep.
c) Minum 8-10 gelas air setiap hari.
d) Berkemih setiap 2-3 jam.
e) Urin yang keluar jernih dan tidak berbau.
• Pengetahuan mengenai tindakan pencegahan modalitas penanganan yang diresepkan meningkat.
• Bebas komplikasi
a) Melaporkan tidak adanya gejala infeksi atau gagal ginjal (mual, muntah, kelemahan, pruritus).
b) Kadar BUN dan kreatinin serum normal, kultur darah dan urin negatif.
c) Memperlihatkan tanda-tanda vital dan suhu yang normal; tidak ada tanda sepsis.
d) Mempertahankan keluaran urin yang adekuat (> 30 ml/jam).
• Rasa nyaman
Mempertahankan suhu normal dengan gejala tidak terdapatnya tanda-tanda dan gejala-gejala hipertermia seperti takikardi dan hiperventilasi sehingga dapat meningkatkan rasa nyaman.
• Mengatasi gangguan pola tidur
Klien dapat mengontrol rasa nyeri sehingga dapat tidur dengan nyaman.
• Devisit volume cairan
a) Tekanan darah dan nadi dalam batas normal
b) Turgor kulit dalam batas normal
c) Keseimbangan asupan dan haluaran adekuat
Hiperemesis Grafidarum
HIPEREMESIS GRAVIDARUM
Sekitar 75% dari semua wanita mengalami pusing,mual muntah terutama pada pagi hari pada awal kehamilannnya.keadaan ini yang di sebut sebagai hipermesis gravidarum dan keluhan biasanya menghilang sekitar minggu kedua belas.pada sekitar 3,5dalam 1000 kehamilan,terjadi muntah terus menerus sehingga menyebabkan dehidrasi,keadaan yang demikian di sebut sebagai(HIPEREMESIS GRAVIDARUM).
Hiperemesis gravidarum adalah adanya gejalah muntah yang berlebihan pada saat kehamilan.
PENYEBAB
Penyebab hiperemesis gravidarum belu di ketehui dengan pasti.Tetapi ada beberapa faktorpredisposisi yang dapat di jabarkan sebagai berikut.
1.Faktor hormonal
Adanya kehamilan menimbulkan perubahan pola Hormonal pada wanita,karena terdapat peningkatan hormon estrogen,progesteron dan di keluarkannya human chorionioc gonadotropin(hCG) plasenta.Hormon-hormon inilah yang di duga menyebabkan hiperemesis gravidarum.
2.Faktor psikologis
Hubungan faktor psikologis dengan kejadian hipperemesis gravidarum belum jelas.Besar kemungkinan bahwa wanita yang menolak hamil,takut kehilangan pekerjaan,keretakan hubungan suami dan sebagainya,di duga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum.Dengan perubahan suasana dan masuk rumah sakait,biasanya keluhan dapat berkurang sampai menghilang.
3.Faktor alergi
Ppada kehamilan,dimana diduga terjadi inflasi jaringan villi korialis yang masuk ke dalam peredaran darah Ibu,maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan kajadian hiperemesis gravidarum.
GEJALA KLINIK
Sekalipun batas antara muntah yang fisiologis dan patologis tidak jelas,tetapi muntah yang menimbulkan gangguan pada kehidupan sehari-sehari dan dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil telah memerlukan perawatan yang intensif.
Gambaran gejala hipermesis gravidarum secara klinis dapat di bagi menjadi tiga tingkat:
1.Hiperemesis gravidarum tingkat pertama..
- Muntah berlansung terus.
- Makan berkurang dan berat badan menurun.
- Kulit dehidrasi dan tonus berkurang.
- Nyeri daerah epigastrium
- Tekanan darah menurun dan nadi meningkat.
- Lidah kering
- mata tampak cekung
2. hiperemesis gravidarum tingkat dua
• Penderita tampak lebih lemah
• Gejala dehidrasi makin tampak, mata cekung, turgor kulit makin kurang, lidah kering dan kotor.
• Berat badan makin menurun
• Mata iterik
• Gejala hemokonsentrasi makin tampak: urin berkurang, bada aseton dalam urin meningkat.
• Terjadinya gangguan buang air besar
• Mulia tampak gejala gangguan kesadaran menjadi apatis
• Napas bau aseton
3. hiperemesis gravidarum tingkat tiga
• Muntah mulai berkurang
• Keadaan umum wanita hamil makin menurun : tekanan darah turun, nadi meningkat, dan suhu meningkat, keadaan dehidrasi makin jelas.
• Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi icterus
• Gangguan kesadaran dalam batuk : somnolen sampai koma, komplikasi susunan saraf pusat, (enselopati wernicke) nystagmus (perubahan arah bola mata) diplopia (gambar tampak ganda) dan perubahan mental.
DIAGNOSIS
Menetapkan kejadiann hiperemesis tidak sukar dengan menentukan kehamilan, muntah berlebihan, sampai menimbulkan gangguan sehari hari dan dehidrasi.
Muntah yang terus menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan ganngguan tumbuh kem bang janin dalam rahim dengan manisfestasi kliniknya oleh kaerna itu heperemesis yang berkelanjutan harus dicegah dan harus mendapatkan pengobatan yang adkuat
Kemungkinan penyakit lain yang menyertai hamil harus di pikirkan dan berkonsultasi dengan disiplin bidang ilmu lain misal penyakit dalam.Pemeriksaan laboratorium dapat membedakan kehamilan dengan penyakit tertentu atau oleh karenahiperemesis gravidarum.Pemeriksaan Ultrasonografi juga di perlukan untuk melihat adanya kemungkinan suatu hiperemesis gravidarum dengan kehamilan mola hidatidosa,sehingga apabila di temukan keadaan tersebut di samping penanngan terhadab hiperemesis juga untuk penyakit mola hidatidoosanya.
• PENGOBATAN
Pengobatan yang baik pada hiperemesis gravidarum sehinggga dapat mencegah hiiperemesis gravidarum.Dalam keadaan muntah berlebihan dan dehidrasi ringan,penderita hiperemesis gravidarum sebaiknya di rawat sehinggah dapat mencegah hiperemesis gravidarum konsep pengobatan yang dapat diberikan sebagai berikut.
1.Isolasi dan Pengobatan Psikoologis.
Dalam melakkukan isolasi di ruangan sudah dapat meringankan wanita hamil karena perubahan suasana dari lingkungan rumah tanggga.Petugas dapat memberikan komunikasi,informasi dan edukasi tentang berbagai masalah berkaitan dengan kehamilan.
2.Penberian cairan Pengganti
Dalam keadaan darurat di berikan cairan pengganti sehingga keadaan dehidrasi dapat diatasi.Cairan pengganti yang diberikan adalah 5% sampai 10% dengan keuntungan dapat menggantikan cairan yang hilang dan berfungsi sebagai sumber energi,sehingga terjadi perubahan metabolisme dari lemak dan protein menuju kearah pemecahan glukosa.Dalam cairan dapat di tambahkan vitamin C, B kompieks atau kalium yang di perlukanuntuk kelancaran metabolisme selama pemberian cairan harus mendapat perhatian tentang keseimbanagan cairan,tekanan darah,nadi suhu serta pernafasan.
3.Obat yang Dapat di Berikan
Memberi obat pada hiperemesis gravidarum sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter,sehingga dapat di pilih obat-obat yang teratogenik(dapat menyebabkan cacat janin).
KOMPONEN OBAT YANG DAPAT DI BERIKAN ADALAH:
A.Sedativa ringan,misal luminal atau phenobarbital.
B.Anti alergi,misal antihistamin,dramamine,avomin.
C.Obat anti mual muntah misal:mediamer B6,avopreg,emetrol dll.
D.Vitamin B kompleks dan vvitamin C.
4.Menghentikan Kehamilan
Pada beberapa kasus,pengobbatan hiperemesis gravidarum tidak berhasil malah terjadi kemunduran dan keadaan semakin menurun sehingga di perlukan pertimbangan untuk melakukan abortus provokatus dengan alasan medis.keadaan yang memerlukan pertimbanagn tindakan tersebut adalah:gangguan kejiwaan atau gangguan kesadaran,gangguan penglihatan atau terjadinya gagal organ.
Sekitar 75% dari semua wanita mengalami pusing,mual muntah terutama pada pagi hari pada awal kehamilannnya.keadaan ini yang di sebut sebagai hipermesis gravidarum dan keluhan biasanya menghilang sekitar minggu kedua belas.pada sekitar 3,5dalam 1000 kehamilan,terjadi muntah terus menerus sehingga menyebabkan dehidrasi,keadaan yang demikian di sebut sebagai(HIPEREMESIS GRAVIDARUM).
Hiperemesis gravidarum adalah adanya gejalah muntah yang berlebihan pada saat kehamilan.
PENYEBAB
Penyebab hiperemesis gravidarum belu di ketehui dengan pasti.Tetapi ada beberapa faktorpredisposisi yang dapat di jabarkan sebagai berikut.
1.Faktor hormonal
Adanya kehamilan menimbulkan perubahan pola Hormonal pada wanita,karena terdapat peningkatan hormon estrogen,progesteron dan di keluarkannya human chorionioc gonadotropin(hCG) plasenta.Hormon-hormon inilah yang di duga menyebabkan hiperemesis gravidarum.
2.Faktor psikologis
Hubungan faktor psikologis dengan kejadian hipperemesis gravidarum belum jelas.Besar kemungkinan bahwa wanita yang menolak hamil,takut kehilangan pekerjaan,keretakan hubungan suami dan sebagainya,di duga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum.Dengan perubahan suasana dan masuk rumah sakait,biasanya keluhan dapat berkurang sampai menghilang.
3.Faktor alergi
Ppada kehamilan,dimana diduga terjadi inflasi jaringan villi korialis yang masuk ke dalam peredaran darah Ibu,maka faktor alergi dianggap dapat menyebabkan kajadian hiperemesis gravidarum.
GEJALA KLINIK
Sekalipun batas antara muntah yang fisiologis dan patologis tidak jelas,tetapi muntah yang menimbulkan gangguan pada kehidupan sehari-sehari dan dehidrasi memberikan petunjuk bahwa wanita hamil telah memerlukan perawatan yang intensif.
Gambaran gejala hipermesis gravidarum secara klinis dapat di bagi menjadi tiga tingkat:
1.Hiperemesis gravidarum tingkat pertama..
- Muntah berlansung terus.
- Makan berkurang dan berat badan menurun.
- Kulit dehidrasi dan tonus berkurang.
- Nyeri daerah epigastrium
- Tekanan darah menurun dan nadi meningkat.
- Lidah kering
- mata tampak cekung
2. hiperemesis gravidarum tingkat dua
• Penderita tampak lebih lemah
• Gejala dehidrasi makin tampak, mata cekung, turgor kulit makin kurang, lidah kering dan kotor.
• Berat badan makin menurun
• Mata iterik
• Gejala hemokonsentrasi makin tampak: urin berkurang, bada aseton dalam urin meningkat.
• Terjadinya gangguan buang air besar
• Mulia tampak gejala gangguan kesadaran menjadi apatis
• Napas bau aseton
3. hiperemesis gravidarum tingkat tiga
• Muntah mulai berkurang
• Keadaan umum wanita hamil makin menurun : tekanan darah turun, nadi meningkat, dan suhu meningkat, keadaan dehidrasi makin jelas.
• Gangguan faal hati terjadi dengan manifestasi icterus
• Gangguan kesadaran dalam batuk : somnolen sampai koma, komplikasi susunan saraf pusat, (enselopati wernicke) nystagmus (perubahan arah bola mata) diplopia (gambar tampak ganda) dan perubahan mental.
DIAGNOSIS
Menetapkan kejadiann hiperemesis tidak sukar dengan menentukan kehamilan, muntah berlebihan, sampai menimbulkan gangguan sehari hari dan dehidrasi.
Muntah yang terus menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan ganngguan tumbuh kem bang janin dalam rahim dengan manisfestasi kliniknya oleh kaerna itu heperemesis yang berkelanjutan harus dicegah dan harus mendapatkan pengobatan yang adkuat
Kemungkinan penyakit lain yang menyertai hamil harus di pikirkan dan berkonsultasi dengan disiplin bidang ilmu lain misal penyakit dalam.Pemeriksaan laboratorium dapat membedakan kehamilan dengan penyakit tertentu atau oleh karenahiperemesis gravidarum.Pemeriksaan Ultrasonografi juga di perlukan untuk melihat adanya kemungkinan suatu hiperemesis gravidarum dengan kehamilan mola hidatidosa,sehingga apabila di temukan keadaan tersebut di samping penanngan terhadab hiperemesis juga untuk penyakit mola hidatidoosanya.
• PENGOBATAN
Pengobatan yang baik pada hiperemesis gravidarum sehinggga dapat mencegah hiiperemesis gravidarum.Dalam keadaan muntah berlebihan dan dehidrasi ringan,penderita hiperemesis gravidarum sebaiknya di rawat sehinggah dapat mencegah hiperemesis gravidarum konsep pengobatan yang dapat diberikan sebagai berikut.
1.Isolasi dan Pengobatan Psikoologis.
Dalam melakkukan isolasi di ruangan sudah dapat meringankan wanita hamil karena perubahan suasana dari lingkungan rumah tanggga.Petugas dapat memberikan komunikasi,informasi dan edukasi tentang berbagai masalah berkaitan dengan kehamilan.
2.Penberian cairan Pengganti
Dalam keadaan darurat di berikan cairan pengganti sehingga keadaan dehidrasi dapat diatasi.Cairan pengganti yang diberikan adalah 5% sampai 10% dengan keuntungan dapat menggantikan cairan yang hilang dan berfungsi sebagai sumber energi,sehingga terjadi perubahan metabolisme dari lemak dan protein menuju kearah pemecahan glukosa.Dalam cairan dapat di tambahkan vitamin C, B kompieks atau kalium yang di perlukanuntuk kelancaran metabolisme selama pemberian cairan harus mendapat perhatian tentang keseimbanagan cairan,tekanan darah,nadi suhu serta pernafasan.
3.Obat yang Dapat di Berikan
Memberi obat pada hiperemesis gravidarum sebaiknya berkonsultasi dengan Dokter,sehingga dapat di pilih obat-obat yang teratogenik(dapat menyebabkan cacat janin).
KOMPONEN OBAT YANG DAPAT DI BERIKAN ADALAH:
A.Sedativa ringan,misal luminal atau phenobarbital.
B.Anti alergi,misal antihistamin,dramamine,avomin.
C.Obat anti mual muntah misal:mediamer B6,avopreg,emetrol dll.
D.Vitamin B kompleks dan vvitamin C.
4.Menghentikan Kehamilan
Pada beberapa kasus,pengobbatan hiperemesis gravidarum tidak berhasil malah terjadi kemunduran dan keadaan semakin menurun sehingga di perlukan pertimbangan untuk melakukan abortus provokatus dengan alasan medis.keadaan yang memerlukan pertimbanagn tindakan tersebut adalah:gangguan kejiwaan atau gangguan kesadaran,gangguan penglihatan atau terjadinya gagal organ.
Osteosarkoma
OSTEOSARKOMA
Konsep Medis
1. Pengertian
Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung. Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh.
Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim pembentuk tulang.
Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut.
Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.
Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarkoma adalah suatu neoplasma ganas yang berasal dari sel primitif(poorly differentiated cells) di daerah metafise tulang panjang pada anak-anak.1 Disebut osteogenik oleh karena perkembangannya berasal dari seri osteoblastik sel mesensim primitif. Osteosarkoma merupakan neoplasma primer dari tulang yang tersering nomer setelah myeloma multipel.
Osteosarkoma biasanya terdapat pada metafisis tulang panjang di mana lempeng pertumbuhannya (epiphyseal growth plate) yang sangat aktif; yaitu pada distal femur, proksimal tibia dan fibula, proksimal humerus dan pelvis. Pada orang tua umur di atas 50 tahun,osteosarkoma bisa terjadi akibat degenerasi ganas dari pagetÕs disease, dengan prognosis sangat jelek.
Tempat-tempat yang paling sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Tempat yang paling jarang adalah pelvis, vertebra, mandibula, klavikula, skapula, atau tulang-tulang pada tangan dan kaki. Lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut.
2. Etiologi
a. Genetik
Beberapa kelainan genetik di kaitkan dengan terjadinya keganasan tulang. Dari data penelitian, diduga mutasi genetik pada sel induk mesenkim dapat menimbulkan sarkoma.
b. Radiasi
Keganasan jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang terpapar radiasi seperti pada klien karsinoma mamma dan limfoma maligna yang mendapat radioterapi.
c. Bahan kimia
Bahan kimia seperti Dioxin dan phenoxyherbicide diduga dapat menimbulkan sarkoma, tetapi belum dapat dibuktikan.
d. Trauma
Sekitar 30% kasus keganasan pada jaringan lunak mempunyai riwayat trauma. Walaupun sarkoma kadang-kadang timbul pada jaringan sikatriks lama, luka bakar, dan riwayat trauma,semua ini tidak pernah dapat dibuktikan.
e. Infeksi
Keganasan pada jaringan lunak dan tulang dapat juga disebabkan oleh infeksi parasit, yaitu filariasis.
3. Manifestasi klinis
• Gejala klinis yang paling utama adalah nyeri, yang pada awalnya ringan dan tidak sering, namun seiring dengan waktu akan menjadi sangat nyeri dan menetap
• Dapat menimbulkan gangguan pada sendi
• Tumor berkembang secara cepat
• Karena tumor ini banyak pembuluh darahnya, maka permukaannya hangat
• Dapat terlihat adanya pembuluh darah yang melebar di permukaan tumor
4. Patofisiologi
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak di invasi oleh sel tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal.. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.
Adanya tumor tulang
Jaringan lunak di invasi
oleh tumor
Reaksi tulang normal
Osteolitik (penghancuran tulang) dan Osteoblastik (pembentukan tulang)
destruksi tulang lokal Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi
Pertumbuhan tulang yang abortif
5. Pengkajian
A. Data dasar
a. Identitas
Kajian meliputi nama, inisial, umur, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan, pekerjaan yang terpapar sinar matahari
b. Riwayat penyakit dahulu
Beberapa penyakit dahulu yang pernah di derita yang berhubungan dengan keluhan sekarang
c. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi alasan masuk rumah sakit, kaji keluhan klien, kapan mulai tanda dan gejala
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama
e. Riwayat pemakaian obat-obatan dan bahan kimia
Kajian ini meliputi pemakaian obat-obatan dan bahan kimia yang berbahaya
f. Data biologis
1. Pola nutrisi ; klien mengalami anoreksia dan sering muntah
2. Pola minum : masukan cairan klien adekuat atau tidak
3. Pola eliminasi : Terjadi konstipasi dan berkemih tergantung pemasukan cairan
4. Pola istirahat dan tidur : tidak dapat tidur nyenyak akibat nyeri post operasi
5. Pola aktivitas :Tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa
g. Data psikologis
1. Status emosi
2. Klien dapat merasa terganggu dengan kondisi yang dialaminya
3. Pola koping : klien cemas, menarik diri
h. Data social
1. Pendidikan dan pekerjaan :Tingkat pengetahuan klien minim
2. Hubungan social : hubungan social dengan keluarga dan orang terdekat berjalan baik atau tidak
3. Gaya hidup : kebiasaan merokok, minum minuman berakohol
6. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Kebanyakan pemeriksaan laboratorium yang digunakan berhubungan dengan penggunaan kemoterapi. Sangat penting untuk mengetahui fungsi organ sebelum pemberian kemoterapi dan untuk memonitor fungsi organ setelah kemoterapi. Pemeriksaan darah untuk kepentingan prognosa adalah lactic dehydrogenase (LDH) danalkaline phosphatase (ALP). Pasien dengan peningkatan nilai ALP pada saat diagnosis mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai metastase pada paru. Pada pasien tanpa metastase, yang mempunyai peningkatan nilai LDH kurang dapat menyembuh bila dibandingkan dengan pasien yang mempunyai nilai LDH normal.
Beberapa pemeriksaan laboratorium yang penting termasuk:
• LDH
• ALP (kepentingan prognostik)
• Hitung darah lengkap
• Hitung trombosit
• Tes fungsi hati: Aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), bilirubin, dan albumin.
• Elektrolit : Sodium, potassium, chloride, bicarbonate, calcium, magnesium, phosphorus.
• Tes fungsi ginjal: blood urea nitrogen (BUN), creatinine
• Urinalisis
2. Radiografi
Pemeriksaan X-ray merupakan modalitas utama yang digunakan untuk investigasi. Ketika dicurigai adanya osteosarkoma, MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. CT kurang sensitf bila dibandingkan dengan MRI untuk evaluasi lokal dari tumor namun dapat digunakan untuk menentukan metastase pada paru-paru. Isotopic bone scanning secara umum digunakan untuk mendeteksi metastase pada tulang atau tumor synchronous, tetapi MRI seluruh tubuh dapat menggantikan bone scan.
1. X-ray
Foto polos merupakan hal yang esensial dalam evaluasi pertama dari lesi tulang karena hasilnya dapat memprediksi diagnosis dan penentuan pemeriksaan lebih jauh yang tepat.
2. CT Scan
CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan, terutama pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula dan maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan osteosarkoma sekunder).
3. MRI
MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak.
4. Ultrasound
Ultrasonography tidak secara rutin digunakan untuk menentukan stadium dari lesi. Ultrasonography berguna sebagai panduan dalam melakukan percutaneous biopsi. Pada pasien dengan implant prostetik, Ultrasonography mungkin merupakan modalitas pencitraan satu satunya yang dapat menemukan rekurensi dini secara lokal, karena penggunaan CT atau MRI dapat menimbulkan artefak pada bahan metal.1 Meskipun ultrasonography dapat memperlihatkan penyebaran tumor pada jaringan lunak, tetapi tidak bisa digunnakan untuk mengevaluasi komponen intermedula dari lesi.
5. Nuclear Medicine
Osteosarcoma secara umum menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop pada bone scan yang menggunakan technetium-99m methylene diphosphonate (MDP). Bone scan sangat berguna untuk mengeksklusikan penyakit multifokal. skip lesion dan metastase paru-paru dapat juga dideteksi, namun skip lesion paling konsisten jika menggunakan MRI. Karena osteosarkoma menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop maka bone scan bersifat sensitif namun tidak spesifik.
7. Penatalaksanaan
Beberapa dekade yang lalu, kombinasi antara preoperatif dan postoperatif kemoterapi, serta pembedahan yang lebih efektif meningkatkan angka harapan hidup 5 tahun hingga 70%.
• Konservatif
Zat-zat kemoterapi yang digunakan adalah seperti metotreksat dosis tinggi, adriamisin, doksorubisin, cisplanin, dan ifosfamid.
• Operasi
Penanganan bedah tergantung pada stadium tumornya. Semakin tinggi stadiumnya, semakin tumornya tidak dapat dioperasi. Namun, saat ini sangat dihindarkan amputasi.
8.Diagnosa Keperawatan
1. Cemas b/d prognosis penyakit dan amputasi.
Tujuan ; Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun pada tingkat yang dapat mendemonstrasikan kemandirian yang meningkat dalam aktivitas dan proses pengambilan keputusan.
Intervensi
a. Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional; Membantu dalam mengidentifikasikan kekuatan dan keterampilan yang mungkin membantu pasien mengatasi keadaannya sekarang dan untuk memberikan bantuan yang sesuai.
b. Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan suatu suasana lingkungan yang dapat diterima.
Rasional; Membantu pasien dalam membangun kepercayaan pada tenaga kesehatan.
c. Dorong sikap harapan yang realistis.
Rasional; Meningkatkan kedamaian diri.
d. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai.
Rasional; Meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah
e. Klasifikasi persepsi pasien tentang proses penyakit, pengobatan.
Rasional; Membantu dalam memahami informasi yang penting dan menghilangkan mitos.
2. Nyeri berhubungan dengan post op
Tujuan; Nyeri tidak ada atau terkontrol
Intervensi;
a. tentukan letak nyeri, karakteristik, kualitas dan beratnya sebelum pasien mendapatkan pengobatan.
Rasional; membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi.
b. Atur posisi klien
Rasional; tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk menurunkan spasme otot, menurunkan penekanan pada bagian tubuh tertentu dan memfasilitasi terjadinya reduksi dari tonjolan diskus.
c. Bantu relaksasi untuk memfasilitasi respon terhadap analgetik
Rasional; memfokuskan perhatian klien, membantu menurunkan ketegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
d. Cek pesanan medis terhadap obat, dosis dan frekuensi pemberian analgetik
Rasonal; membantu dalam penyembuhan klien.
e. Pilih analgesik yang sesuai jika lebih dari satu yang diresepkan.
Rasional; dapat membantu dalam menurunkan nyeri.
f. Berikan analgetik pada waktunya terutama untuk nyeri berat
Rasional; menghilangkan dan/atau mengurangi nyeri.
g. Pantau tanda- tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgetik narkotik untuk dosis pertama atau jika ada tanda yang tidak umum mohon dicatat.
Rasional; untuk mengetahui apakah klien cocok atau tidak dengan obat tersebut.
h. Cek riwayat alergi obat
Rasional; mengurangi terjadinya kesalahan dalam pemberian obat.
3. Resiko tinggi infeksi b/d amputasi
Tujuan; tidak adanya infeksi
Intervensi;
a. Lakukan perawatan luka yang steril
Rasional; meminimalkan kesempatan introduksi bakteri.
b. Mengganti balutan dan melakukan inspeksi luka
Rasional; deteksi dini terjadinya infeksi memberikan kesempatan untuk intervensi tepat waktu dan mencegah komplikasi lebih serius.
c. Pantau TTV klien
Rasional; indikator umum status sirkulasi dan keadekuatan perfusi.
d. Asupan nutrisi yang adekuat
Rasional; sangat mempengaruhi dalam proses penyembuhan klien.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan; Pasien mempertahankan berat badan 5 % sebelum pengobatan. Pasien tidak mengalami mual, muntah atau jika akan dikontrol dan diminimalkan.
Intervensi;
a. Kaji masukan makanan dan cairan.
Rasional; Mengetahui input dan output cairan pada tubuh pasien.
b. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai kebutuhan.
Rasional; Meningkatkan kebutuhan nutrisi pada pasien.
c. Timbang berat badan pasien saat masuk dan setiap minggu dengan menggunakan timbangan yang sama.
Rasional; Membuat data dasar,membantu dan memantau keefektifan penurunan dan penambahan berat badan.
d. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasoinal; Meningkatkan nafsu makan
e. Berikan suplemen dan makanan tambahan
Rasional; meningkatkan nafsu makan klien
5. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan efek samping kemoterapi yang dapat mengakibatkan kemoterapi hematuria atau tosisitas renal.
Tujuan; Eliminasi urine optimal dapat dipertahankan.
Intervensi;
a. Pantau eliminasi urine yang meliputi warna, jumlah, adanya sel darah merah, ureum, keratinin.
Rasional; mengidentifikasi fungsi kandung kemih dan fungsi ginjal.
b. Hitung intake dan output cairan
Rasional; mengidentifikasi keseimbangan cairan dalam tubuh klien.
c. Berikan kemoterapi pada pagi hari.
Rasional; untuk membantu dalam proses penyembuhan.
d. Instruksikan pasien untuk minum paling sedikit 8- 12 gelas perhari sebelum atau sesudah kemoterapi.
Rasional; membantu mempertahankan fungsi ginjal, mencegah infeksi dan pembentukan batu.
e. Instruksikan pasien untuk berkemih setiap dua sampai tiga jam sebelum tidur dan ketika bangun di malam hari.
Rasional; untuk mempertahankan fungsi kandung kemih.
f. Beritahu mengenai rasional untuk masukan cairan adekuat dan sering berkemih.
Rasional; agar pasien mengerti dan tidak bertanya-tanya serta melakukan anjuran perawat.
g. Bantu pemasukan cairan lewat IV
Rasional; untuk membantu dalam proses penyembuhan.
Konsep Medis
1. Pengertian
Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung. Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh.
Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim pembentuk tulang.
Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut.
Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.
Osteosarkoma disebut juga osteogenik sarkoma adalah suatu neoplasma ganas yang berasal dari sel primitif(poorly differentiated cells) di daerah metafise tulang panjang pada anak-anak.1 Disebut osteogenik oleh karena perkembangannya berasal dari seri osteoblastik sel mesensim primitif. Osteosarkoma merupakan neoplasma primer dari tulang yang tersering nomer setelah myeloma multipel.
Osteosarkoma biasanya terdapat pada metafisis tulang panjang di mana lempeng pertumbuhannya (epiphyseal growth plate) yang sangat aktif; yaitu pada distal femur, proksimal tibia dan fibula, proksimal humerus dan pelvis. Pada orang tua umur di atas 50 tahun,osteosarkoma bisa terjadi akibat degenerasi ganas dari pagetÕs disease, dengan prognosis sangat jelek.
Tempat-tempat yang paling sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Tempat yang paling jarang adalah pelvis, vertebra, mandibula, klavikula, skapula, atau tulang-tulang pada tangan dan kaki. Lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut.
2. Etiologi
a. Genetik
Beberapa kelainan genetik di kaitkan dengan terjadinya keganasan tulang. Dari data penelitian, diduga mutasi genetik pada sel induk mesenkim dapat menimbulkan sarkoma.
b. Radiasi
Keganasan jaringan lunak dapat terjadi pada daerah tubuh yang terpapar radiasi seperti pada klien karsinoma mamma dan limfoma maligna yang mendapat radioterapi.
c. Bahan kimia
Bahan kimia seperti Dioxin dan phenoxyherbicide diduga dapat menimbulkan sarkoma, tetapi belum dapat dibuktikan.
d. Trauma
Sekitar 30% kasus keganasan pada jaringan lunak mempunyai riwayat trauma. Walaupun sarkoma kadang-kadang timbul pada jaringan sikatriks lama, luka bakar, dan riwayat trauma,semua ini tidak pernah dapat dibuktikan.
e. Infeksi
Keganasan pada jaringan lunak dan tulang dapat juga disebabkan oleh infeksi parasit, yaitu filariasis.
3. Manifestasi klinis
• Gejala klinis yang paling utama adalah nyeri, yang pada awalnya ringan dan tidak sering, namun seiring dengan waktu akan menjadi sangat nyeri dan menetap
• Dapat menimbulkan gangguan pada sendi
• Tumor berkembang secara cepat
• Karena tumor ini banyak pembuluh darahnya, maka permukaannya hangat
• Dapat terlihat adanya pembuluh darah yang melebar di permukaan tumor
4. Patofisiologi
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak di invasi oleh sel tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal.. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.
Adanya tumor tulang
Jaringan lunak di invasi
oleh tumor
Reaksi tulang normal
Osteolitik (penghancuran tulang) dan Osteoblastik (pembentukan tulang)
destruksi tulang lokal Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi
Pertumbuhan tulang yang abortif
5. Pengkajian
A. Data dasar
a. Identitas
Kajian meliputi nama, inisial, umur, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan, pekerjaan yang terpapar sinar matahari
b. Riwayat penyakit dahulu
Beberapa penyakit dahulu yang pernah di derita yang berhubungan dengan keluhan sekarang
c. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi alasan masuk rumah sakit, kaji keluhan klien, kapan mulai tanda dan gejala
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama
e. Riwayat pemakaian obat-obatan dan bahan kimia
Kajian ini meliputi pemakaian obat-obatan dan bahan kimia yang berbahaya
f. Data biologis
1. Pola nutrisi ; klien mengalami anoreksia dan sering muntah
2. Pola minum : masukan cairan klien adekuat atau tidak
3. Pola eliminasi : Terjadi konstipasi dan berkemih tergantung pemasukan cairan
4. Pola istirahat dan tidur : tidak dapat tidur nyenyak akibat nyeri post operasi
5. Pola aktivitas :Tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa
g. Data psikologis
1. Status emosi
2. Klien dapat merasa terganggu dengan kondisi yang dialaminya
3. Pola koping : klien cemas, menarik diri
h. Data social
1. Pendidikan dan pekerjaan :Tingkat pengetahuan klien minim
2. Hubungan social : hubungan social dengan keluarga dan orang terdekat berjalan baik atau tidak
3. Gaya hidup : kebiasaan merokok, minum minuman berakohol
6. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Kebanyakan pemeriksaan laboratorium yang digunakan berhubungan dengan penggunaan kemoterapi. Sangat penting untuk mengetahui fungsi organ sebelum pemberian kemoterapi dan untuk memonitor fungsi organ setelah kemoterapi. Pemeriksaan darah untuk kepentingan prognosa adalah lactic dehydrogenase (LDH) danalkaline phosphatase (ALP). Pasien dengan peningkatan nilai ALP pada saat diagnosis mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai metastase pada paru. Pada pasien tanpa metastase, yang mempunyai peningkatan nilai LDH kurang dapat menyembuh bila dibandingkan dengan pasien yang mempunyai nilai LDH normal.
Beberapa pemeriksaan laboratorium yang penting termasuk:
• LDH
• ALP (kepentingan prognostik)
• Hitung darah lengkap
• Hitung trombosit
• Tes fungsi hati: Aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), bilirubin, dan albumin.
• Elektrolit : Sodium, potassium, chloride, bicarbonate, calcium, magnesium, phosphorus.
• Tes fungsi ginjal: blood urea nitrogen (BUN), creatinine
• Urinalisis
2. Radiografi
Pemeriksaan X-ray merupakan modalitas utama yang digunakan untuk investigasi. Ketika dicurigai adanya osteosarkoma, MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. CT kurang sensitf bila dibandingkan dengan MRI untuk evaluasi lokal dari tumor namun dapat digunakan untuk menentukan metastase pada paru-paru. Isotopic bone scanning secara umum digunakan untuk mendeteksi metastase pada tulang atau tumor synchronous, tetapi MRI seluruh tubuh dapat menggantikan bone scan.
1. X-ray
Foto polos merupakan hal yang esensial dalam evaluasi pertama dari lesi tulang karena hasilnya dapat memprediksi diagnosis dan penentuan pemeriksaan lebih jauh yang tepat.
2. CT Scan
CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan, terutama pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula dan maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan osteosarkoma sekunder).
3. MRI
MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak.
4. Ultrasound
Ultrasonography tidak secara rutin digunakan untuk menentukan stadium dari lesi. Ultrasonography berguna sebagai panduan dalam melakukan percutaneous biopsi. Pada pasien dengan implant prostetik, Ultrasonography mungkin merupakan modalitas pencitraan satu satunya yang dapat menemukan rekurensi dini secara lokal, karena penggunaan CT atau MRI dapat menimbulkan artefak pada bahan metal.1 Meskipun ultrasonography dapat memperlihatkan penyebaran tumor pada jaringan lunak, tetapi tidak bisa digunnakan untuk mengevaluasi komponen intermedula dari lesi.
5. Nuclear Medicine
Osteosarcoma secara umum menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop pada bone scan yang menggunakan technetium-99m methylene diphosphonate (MDP). Bone scan sangat berguna untuk mengeksklusikan penyakit multifokal. skip lesion dan metastase paru-paru dapat juga dideteksi, namun skip lesion paling konsisten jika menggunakan MRI. Karena osteosarkoma menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop maka bone scan bersifat sensitif namun tidak spesifik.
7. Penatalaksanaan
Beberapa dekade yang lalu, kombinasi antara preoperatif dan postoperatif kemoterapi, serta pembedahan yang lebih efektif meningkatkan angka harapan hidup 5 tahun hingga 70%.
• Konservatif
Zat-zat kemoterapi yang digunakan adalah seperti metotreksat dosis tinggi, adriamisin, doksorubisin, cisplanin, dan ifosfamid.
• Operasi
Penanganan bedah tergantung pada stadium tumornya. Semakin tinggi stadiumnya, semakin tumornya tidak dapat dioperasi. Namun, saat ini sangat dihindarkan amputasi.
8.Diagnosa Keperawatan
1. Cemas b/d prognosis penyakit dan amputasi.
Tujuan ; Ansietas, kekuatiran dan kelemahan menurun pada tingkat yang dapat mendemonstrasikan kemandirian yang meningkat dalam aktivitas dan proses pengambilan keputusan.
Intervensi
a. Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional; Membantu dalam mengidentifikasikan kekuatan dan keterampilan yang mungkin membantu pasien mengatasi keadaannya sekarang dan untuk memberikan bantuan yang sesuai.
b. Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan suatu suasana lingkungan yang dapat diterima.
Rasional; Membantu pasien dalam membangun kepercayaan pada tenaga kesehatan.
c. Dorong sikap harapan yang realistis.
Rasional; Meningkatkan kedamaian diri.
d. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai.
Rasional; Meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah
e. Klasifikasi persepsi pasien tentang proses penyakit, pengobatan.
Rasional; Membantu dalam memahami informasi yang penting dan menghilangkan mitos.
2. Nyeri berhubungan dengan post op
Tujuan; Nyeri tidak ada atau terkontrol
Intervensi;
a. tentukan letak nyeri, karakteristik, kualitas dan beratnya sebelum pasien mendapatkan pengobatan.
Rasional; membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan evaluasi terhadap terapi.
b. Atur posisi klien
Rasional; tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk menurunkan spasme otot, menurunkan penekanan pada bagian tubuh tertentu dan memfasilitasi terjadinya reduksi dari tonjolan diskus.
c. Bantu relaksasi untuk memfasilitasi respon terhadap analgetik
Rasional; memfokuskan perhatian klien, membantu menurunkan ketegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
d. Cek pesanan medis terhadap obat, dosis dan frekuensi pemberian analgetik
Rasonal; membantu dalam penyembuhan klien.
e. Pilih analgesik yang sesuai jika lebih dari satu yang diresepkan.
Rasional; dapat membantu dalam menurunkan nyeri.
f. Berikan analgetik pada waktunya terutama untuk nyeri berat
Rasional; menghilangkan dan/atau mengurangi nyeri.
g. Pantau tanda- tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgetik narkotik untuk dosis pertama atau jika ada tanda yang tidak umum mohon dicatat.
Rasional; untuk mengetahui apakah klien cocok atau tidak dengan obat tersebut.
h. Cek riwayat alergi obat
Rasional; mengurangi terjadinya kesalahan dalam pemberian obat.
3. Resiko tinggi infeksi b/d amputasi
Tujuan; tidak adanya infeksi
Intervensi;
a. Lakukan perawatan luka yang steril
Rasional; meminimalkan kesempatan introduksi bakteri.
b. Mengganti balutan dan melakukan inspeksi luka
Rasional; deteksi dini terjadinya infeksi memberikan kesempatan untuk intervensi tepat waktu dan mencegah komplikasi lebih serius.
c. Pantau TTV klien
Rasional; indikator umum status sirkulasi dan keadekuatan perfusi.
d. Asupan nutrisi yang adekuat
Rasional; sangat mempengaruhi dalam proses penyembuhan klien.
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan; Pasien mempertahankan berat badan 5 % sebelum pengobatan. Pasien tidak mengalami mual, muntah atau jika akan dikontrol dan diminimalkan.
Intervensi;
a. Kaji masukan makanan dan cairan.
Rasional; Mengetahui input dan output cairan pada tubuh pasien.
b. Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai kebutuhan.
Rasional; Meningkatkan kebutuhan nutrisi pada pasien.
c. Timbang berat badan pasien saat masuk dan setiap minggu dengan menggunakan timbangan yang sama.
Rasional; Membuat data dasar,membantu dan memantau keefektifan penurunan dan penambahan berat badan.
d. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering.
Rasoinal; Meningkatkan nafsu makan
e. Berikan suplemen dan makanan tambahan
Rasional; meningkatkan nafsu makan klien
5. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan efek samping kemoterapi yang dapat mengakibatkan kemoterapi hematuria atau tosisitas renal.
Tujuan; Eliminasi urine optimal dapat dipertahankan.
Intervensi;
a. Pantau eliminasi urine yang meliputi warna, jumlah, adanya sel darah merah, ureum, keratinin.
Rasional; mengidentifikasi fungsi kandung kemih dan fungsi ginjal.
b. Hitung intake dan output cairan
Rasional; mengidentifikasi keseimbangan cairan dalam tubuh klien.
c. Berikan kemoterapi pada pagi hari.
Rasional; untuk membantu dalam proses penyembuhan.
d. Instruksikan pasien untuk minum paling sedikit 8- 12 gelas perhari sebelum atau sesudah kemoterapi.
Rasional; membantu mempertahankan fungsi ginjal, mencegah infeksi dan pembentukan batu.
e. Instruksikan pasien untuk berkemih setiap dua sampai tiga jam sebelum tidur dan ketika bangun di malam hari.
Rasional; untuk mempertahankan fungsi kandung kemih.
f. Beritahu mengenai rasional untuk masukan cairan adekuat dan sering berkemih.
Rasional; agar pasien mengerti dan tidak bertanya-tanya serta melakukan anjuran perawat.
g. Bantu pemasukan cairan lewat IV
Rasional; untuk membantu dalam proses penyembuhan.
Sindroma down
Sindroma down merupakan kelainan kromosom yang paling sering terjadi. Angka kejadian
kelainan ini mencapai 1 dalam 1000 kelahiran. Di Amerika Serikat, setiap tahun lahir 3000 sampai
5000 anak dengan kelainan ini. Sedangkan di Indonesia prevalensinya lebih dari 300 ribu jiwa.
Sindroma down pertama kali dideskripsikan dan dipublikasikan oleh John Langdon Down pada
1866. Penderita kelainan kromosom ini pada umumnya memiliki karakteristik fisik yang khas. Ciri
fisik ini penting digunakan dokter untuk membuat diagnosis klinis. Beberapa ciri fisik penyandang
kelainan ini di antaranya, bagian belakang kepala rata (Flattening of the back of the head), mata
sipit, alis mata miring (slanting of the eyelids), telinga lebih kecil, mulut yang mungil, otot lunak,
persendian longgar (loose ligament), dan tangan kaki yang mungil. Secara umum ciri-ciri tersebut
di atas tidak menyebabkan anak cacat.
Mekanisme terjadinya sindrom down ditandai dengan berlebihnya jumlah kromoson nomor 21
yang seharusnya dua buah menjadi tiga sehingga jumlah seluruh kromosom mencapai 47 buah.
Pada manusia normal jumlah kromosom sel mengandung 23 pasangan kromosom. Akibat proses
tersebut, terjadi goncangan sistem metabolisme di dalam sel sehingga muncul kelainan ini. Anak
yang menyandang sindroma down ini akan mengalami keterbatasan kemampuan mental dan
intelektual. Selain itu, penderita seringkali mengalami perkembangan tubuh yang abnormal,
pertahanan tubuh yang relatif lemah, penyakit jantung bawaan, Alzheimer, Leukemia, dan
berbagai masalah kesehatan lain.
Banyak pakar berteori tentang penyebab Sindroma ini, tapi penyebab sesungguhnya tidak
diketahui dengan pasti. Beberapa pakar meyakini adanya abnormalitas hormonal, pengaruh sinar
X, infeksi virus, masalah kekebalan tubuh, atau predisposisi genetis yang menyebabkan
pembagian sel tidak sempurna. Pendapat yang menyatakan semakin tinggi usia ibu semakin
besar kemungkinan ia memiliki anak Sindroma Down. Penelitian terakhir di Amerika Serikat
membuktikan lebih dari 85% anak Sindroma Down dilahirkan dari ibu yang usianya tidak lebih dari
35 tahun. Peneliti lain menyatakan usia ayah juga berpengaruh. Memang kelebihan kromosom
trisomi 21 bisa disebabkan baik dari ibu ataupun ayah, meski kebanyakan kromosom yang
berlebih didapat dari ibu.
Anak yang menyandang sindroma down bertubuh lebih mungil dengan pertumbuhan fisik dan
mental yang lebih lambat dibanding anak-anak seusianya. Sebagian besar anak sindroma down
berada pada taraf intelegensia retardasi mental ringan sampai moderat. Beberapa anak tidak
mengalami retardasi mental sama sekali. Mereka berada pada taraf intelegensia borderline
sampai di bawah rata-rata. Namun demikian ada juga anak yang sangat terlambat. Kemajuan
perkembangan kemampuan mental anak Sindroma Down bervariasi. Perkembangan motorik
mereka cenderung lebih lambat dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Umumnya anak
yang normal belajar berjalan pada usia 12--14 bulan. Sementara, anak Sindroma Down biasanya
baru mulai berjalan antara 15--36 bulan.
Anak sindroma down membutuhkan perawatan medis yang sama seperti anak-anak lain,
misalnya imunisasi. Namun ada beberapa situasi yang membutuhkan perhatian khusus seperti:
sebagain besar anak Sindroma Down mengalami gangguan pendengaran, 40--45% mengalami
sakit jantung bawaan, kelainan pencernaan, kelainan mata berupa katarak, juling (strabismus),
mata minus dan mata plus. Meskipun kemungkinan kecil dapat disembuhkan, dengan penelitian
bidang biologi molekuler dapat dideteks dini dan terapi medis dapat dilakukan.
Hal yang lebih menggembirakan kini tersedia program intervensi dini berupa tempat pengasuhan
anak/ kelompok bermain dan berbagai strategi pendidikan khusus terintegrasi yang
memungkinkan anak lebih berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Dengan demikian
membawa pengaruh positif dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penelitian membuktikan bahwa
intervensi dini, pengayaan lingkungan dan bantuan serta dukungan dari keluarga membawa
kemajuan yang berarti dibandingkan dengan anak yang tidak mengikuti program tersebut. Anak
sindroma down seperti anak yang lainnya bisa merasakan manfaat stimulasi sensoris, latihan
khusus yang melibatkan aktivitas motorik halus dan kasar, dan perkembangan kognitif.
Selanjutnya, sekolah dapat memberi anak dasar kehidupan lewat perkembangan ketrampilan
akademis dan fisik serta kemampuan sosial. Pengalaman yang didapat dari sekolah membantu
anak untuk mengembangkan rasa hormat pada diri sendiri dan kegembiraan. Sekolah sebaiknya
memberi kesempatan pada anak untuk berbagi rasa dan menjalin hubungan dengan orang lain
sehingga mampu menjadi warga negara yang produktif.
Saat remaja, sebaiknya diberikan pelatihan vokasional agar mereka mempelajari kebiasaan kerja
yang baik dan bisa membangun hubungan dengan rekan kerja. Konseling vokasional dan
pelatihan kerja yang tepat akan memberikan sumbangan yang berarti dan memberi perasaan
bermakna pada diri sendiri karena bisa menyumbang sesuatu untuk masyarakat.
kelainan ini mencapai 1 dalam 1000 kelahiran. Di Amerika Serikat, setiap tahun lahir 3000 sampai
5000 anak dengan kelainan ini. Sedangkan di Indonesia prevalensinya lebih dari 300 ribu jiwa.
Sindroma down pertama kali dideskripsikan dan dipublikasikan oleh John Langdon Down pada
1866. Penderita kelainan kromosom ini pada umumnya memiliki karakteristik fisik yang khas. Ciri
fisik ini penting digunakan dokter untuk membuat diagnosis klinis. Beberapa ciri fisik penyandang
kelainan ini di antaranya, bagian belakang kepala rata (Flattening of the back of the head), mata
sipit, alis mata miring (slanting of the eyelids), telinga lebih kecil, mulut yang mungil, otot lunak,
persendian longgar (loose ligament), dan tangan kaki yang mungil. Secara umum ciri-ciri tersebut
di atas tidak menyebabkan anak cacat.
Mekanisme terjadinya sindrom down ditandai dengan berlebihnya jumlah kromoson nomor 21
yang seharusnya dua buah menjadi tiga sehingga jumlah seluruh kromosom mencapai 47 buah.
Pada manusia normal jumlah kromosom sel mengandung 23 pasangan kromosom. Akibat proses
tersebut, terjadi goncangan sistem metabolisme di dalam sel sehingga muncul kelainan ini. Anak
yang menyandang sindroma down ini akan mengalami keterbatasan kemampuan mental dan
intelektual. Selain itu, penderita seringkali mengalami perkembangan tubuh yang abnormal,
pertahanan tubuh yang relatif lemah, penyakit jantung bawaan, Alzheimer, Leukemia, dan
berbagai masalah kesehatan lain.
Banyak pakar berteori tentang penyebab Sindroma ini, tapi penyebab sesungguhnya tidak
diketahui dengan pasti. Beberapa pakar meyakini adanya abnormalitas hormonal, pengaruh sinar
X, infeksi virus, masalah kekebalan tubuh, atau predisposisi genetis yang menyebabkan
pembagian sel tidak sempurna. Pendapat yang menyatakan semakin tinggi usia ibu semakin
besar kemungkinan ia memiliki anak Sindroma Down. Penelitian terakhir di Amerika Serikat
membuktikan lebih dari 85% anak Sindroma Down dilahirkan dari ibu yang usianya tidak lebih dari
35 tahun. Peneliti lain menyatakan usia ayah juga berpengaruh. Memang kelebihan kromosom
trisomi 21 bisa disebabkan baik dari ibu ataupun ayah, meski kebanyakan kromosom yang
berlebih didapat dari ibu.
Anak yang menyandang sindroma down bertubuh lebih mungil dengan pertumbuhan fisik dan
mental yang lebih lambat dibanding anak-anak seusianya. Sebagian besar anak sindroma down
berada pada taraf intelegensia retardasi mental ringan sampai moderat. Beberapa anak tidak
mengalami retardasi mental sama sekali. Mereka berada pada taraf intelegensia borderline
sampai di bawah rata-rata. Namun demikian ada juga anak yang sangat terlambat. Kemajuan
perkembangan kemampuan mental anak Sindroma Down bervariasi. Perkembangan motorik
mereka cenderung lebih lambat dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Umumnya anak
yang normal belajar berjalan pada usia 12--14 bulan. Sementara, anak Sindroma Down biasanya
baru mulai berjalan antara 15--36 bulan.
Anak sindroma down membutuhkan perawatan medis yang sama seperti anak-anak lain,
misalnya imunisasi. Namun ada beberapa situasi yang membutuhkan perhatian khusus seperti:
sebagain besar anak Sindroma Down mengalami gangguan pendengaran, 40--45% mengalami
sakit jantung bawaan, kelainan pencernaan, kelainan mata berupa katarak, juling (strabismus),
mata minus dan mata plus. Meskipun kemungkinan kecil dapat disembuhkan, dengan penelitian
bidang biologi molekuler dapat dideteks dini dan terapi medis dapat dilakukan.
Hal yang lebih menggembirakan kini tersedia program intervensi dini berupa tempat pengasuhan
anak/ kelompok bermain dan berbagai strategi pendidikan khusus terintegrasi yang
memungkinkan anak lebih berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Dengan demikian
membawa pengaruh positif dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penelitian membuktikan bahwa
intervensi dini, pengayaan lingkungan dan bantuan serta dukungan dari keluarga membawa
kemajuan yang berarti dibandingkan dengan anak yang tidak mengikuti program tersebut. Anak
sindroma down seperti anak yang lainnya bisa merasakan manfaat stimulasi sensoris, latihan
khusus yang melibatkan aktivitas motorik halus dan kasar, dan perkembangan kognitif.
Selanjutnya, sekolah dapat memberi anak dasar kehidupan lewat perkembangan ketrampilan
akademis dan fisik serta kemampuan sosial. Pengalaman yang didapat dari sekolah membantu
anak untuk mengembangkan rasa hormat pada diri sendiri dan kegembiraan. Sekolah sebaiknya
memberi kesempatan pada anak untuk berbagi rasa dan menjalin hubungan dengan orang lain
sehingga mampu menjadi warga negara yang produktif.
Saat remaja, sebaiknya diberikan pelatihan vokasional agar mereka mempelajari kebiasaan kerja
yang baik dan bisa membangun hubungan dengan rekan kerja. Konseling vokasional dan
pelatihan kerja yang tepat akan memberikan sumbangan yang berarti dan memberi perasaan
bermakna pada diri sendiri karena bisa menyumbang sesuatu untuk masyarakat.
Langganan:
Komentar (Atom)